Read more: http://bambang-gene.blogspot.com/2011/03/pasang-meta-tag-di-blog-supaya-seo.html#ixzz1FYQ9VUp5 TUNGKAL FOTOGRAFI

TUNGKAL FOTOGRAFI

TUNGKAL FOTOGRAFI BELAJAR DAN SALING BERBAGI INFORMASI

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis
Ensiklopedia Tips Tutorial

Free Online Software Download

Silahkan Gabung

apakah anda suka

ARTIKEL TERBARU

Thumbnail Recent Post

Pelabuhan Roro Tungkal Jambi

Nuansa senja di kota tungkal pesisir jambi

Landscafe sunset lokasi sungai pengabuan

Sunset dan degradasi awan yang merupakan fenomena alam yang kita tidak dapat memprediksikannya kapan dia berubah

Sunset lokasi sungai betara

SUNSET

Saat senja menjelang di kota kuala tungkal pantai pesisir jambi

Lensa tele atau yang lebih dikenal dengan lensa teropong karena berfungsi untuk ‘meneropong’ dari jarak jauh populer digunakan pada dunia olahraga, petualangan alam liar serta foto konser. Tak lupa pula di dunia selebriti dan paparazi lensa ini adalah andalan utama mereka.

Fungsi utamanya yang mengambil foto dari jarak jauh memungkinkan sang fotografer dan subyek (obyek) foto bisa lebih aman dan nyaman sehingga ‘tidak saling mengganggu’ satu sama lain. Soal keamanan ini pula menjadi faktor utama bagi para fotografer di alam liar, dimana mereka bisa mengambil foto dari seekor singa / harimau dari jarak yang aman ataupun mengambil foto gunung berapi yang sedang bergejolak memuntahkan lavanya.

Ada beberapa tips dan trick untuk bisa memaksimalkan fungsi dari lensa tele yang Anda miliki saat ini, apapun merek serta tipenya (tele-fix atau tele-zoom), tips ini bisa diaplikasikan lebih jauh. Berikut ini tips dan trick nya :

  1. Kenali terlebih dahulu panjang fokal serta bukaan diagrafragmanya (apperture). Biasanya hal ini bisa ditemui pada sisi depan lensa tersebut / box lensa tersebut. Contoh : 200mm f/4, 70-200mm f/2.8, dst. Hal ini berfungsi untuk mengetahui kemampuan dari lensa tersebut dan kita bisa mempersiapkan serta mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi pada saat ‘on the stage‘ nantinya.
  2. Semakin besar nilai dari fokal maka mempunyai kemampuan ‘tele’ lebih jauh dalam posisi pengambilan yang sama, tapi mempunyai konsekwensi rentang sudut pengambilan yang semakin sempit jika dibandingkan dengan fokal yang lebih kecilnya. Lensa dengan panjang fokal 200mm bisa ‘memperbesar’ obyek yang lebih jauh jika dibandingkan dengan lensa dengan panjang fokal 70mm.
  3. Semakin besar nilai bukaan diagfragma (apperture) maka semakin ‘cepat’ lensa tersebut dapat digunakan. Arti cepat disini adalah semakin cepat setting untuk exposurenya dalam kondisi minim cahaya (redup / gelap). Sebagai contoh lensa dengan f/2.8 dapat digunakan ‘lebih cepat’ jika dibandingkan dengan lensa dengan f/4, begitu juga lensa dengan f/4 ‘lebih cepat’ daripada lensa dengan f/5.6, begitu juga seterusnya. Secara teori hal ini disebabkan semakin besar bukaan diagfragma sehingga semakin besar ‘jumlah cahaya’ yang bisa diterima oleh sensor / film kamera Anda, jadi setting shutter speed bisa diset lebih cepat lagi tanpa khawatir hasil menjadi gelap karena kurangnya waktu exposure.
  4. Satu trick agar gambar tidak goyang (shake) atau blur dengan menset exposure time menjadi “satu per panjang fokus lensa”. Sebagai contoh jika Anda sedang menggunakan lensa dengan panjang fokus 200mm, maka setting exposure time ‘yang aman’ adalah 1/200 detik. Begitu juga jika Anda menggunakan lensa dengan panjang fokus 400mm setting exposure time ‘yang aman’ adalah 1/400 detik. Untuk bisa mendapatkan waktu exposure yang tinggi serta hasil yang ‘bagus’ dibutuhkan bukaan diagfragma yang semakin besar (seperti yang telah dijelaskan pada tips nomor 3).
  5. Gunakan penyangga (tripod / bipod / monopod) untuk mengurangi efek goyang (shake). Goyangan / getaran sekecil apapun ketika Anda menggunakan lensa tele, hal itu sudah dapat membuat hasil foto Anda blur / bergoyang. Hal itu dikarenakan efek ‘pembesaran’ yang disebabkan lensa tele tersebut. Penyangga (tripod / bipod / monopod) juga bisa digunakan untuk membantu ‘menopang’ lensa tele Anda yang rata-rata berukuran besar dan berat, terutama jika Anda menunggu momen yang tepat dalam waktu yang lama.
  6. Semakin besar nilai bukaan diagfragma lensa Anda, semakin ‘bagus dan unik’ bokeh yang akan dihasilkan dalam kondisi ‘normal’ dengan mudah. Lensa dengan nilai bukaan (apperture) f/2.8 bisa menghasilkan bokeh ‘lebih mudah’ jika dibandingkan dengan lensa dengan nilai bukaan (apperture) f/4. Hal ini juga berfungsi untuk mengisolasi subyek / obyek yang akan di foto dengan Deep of Field (DoF) untuk memberikan kesan ‘ruang/3D’.
  7. Gunakan fitur stabilizer yang bisa ditemukan pada sistem internal lensa seperti halnya Image Stabilizer (IS) pada lensa-lensa keluaran Canon ataupun VR pada lensa-lensa keluaran Nikon ataupun stabilizer yang ada pada body kamera seperti IS pada kamera Olympus ataupun Steady-Shoot pada kamera Sony.
  8. Gunakan ISO yang lebih tinggi untuk mengkompensasi bukaan lensa (apperture) yang kecil untuk mendapatkan nilai shutter (expose) yang tinggi. ISO 1600 bisa mengkompensasi nilai shutter (expose) yang lebih cepat jika dibandingkan dengan ISO 400 pada kondisi pencahayaan dan bukaan lensa (apperture) yang sama. Hal ini berguna untuk mengurangi efek blur / shake pada hasil akhir. Tetapi hal ini mempunyai konsekwensi lain yaitu timbulnya grainy/noise/bintik-bintik yang lebih besar dan banyak jika Anda menggunakan ISO yang lebih tinggi.

Yap, itu semua beberapa tips & trick untuk memaksimalkan lensa tele Anda, baik yang berupa tele-zoom (70-200mm, 100-200mm, dst), tele-fix (200mm, 300mm, dst), variable apperture (f/4-5.6, dst), fix apperture (f/2.8, f/4, dst), dan berbagai macam merk mulai dari Canon, Nikon, Olympus, Sony, Sigma, dll.

Selamat berkarya dan sampai jumpa pada tips dan trick lainnya. ;)

Picture take from : http://media.the-digital-picture.com/Images/Other/Canon-Telephoto-Zoom-Lenses-Extended.jpg

Dewasa ini semakin mudah untuk mendapatkan filter lensa untuk kamera Anda. Mulai dari filter UV yang bisa melindungi bagian depan lensa kamera, hingga ke filter polarize yang bisa digunakan untuk mengurangi efek glare dari sinar matahari. Artikel ini sedikit banyak akan mengupas mengenai berbagai jenis filter untuk lensa Anda serta masing-masing fungsi serta efek yang ditimbulkan pada hasil akhir foto yang Anda ambil.

Filter lensa kamera yang paling sering digunakan oleh kalangan fotografer baik amatir maupun profesional antara lain berjenis : Ultra Violet (UV), Polarize (baik yang linear maupun circular), Gradual Neutral Density (GND), warming / cooling serta filter berwarna. Masing-masing filter tersebut mempunyai fungsi dan kegunaan antara lain :

Tipe Filter Fungsi Utama Biasa digunakan pada
Linear & Circular
Polarizers
Mengurangi Glare
Menambah Saturation
Langit / air
Landscape Photography
Neutral Density (ND) Menambah waktu Exposure Air terjun, sungai, diwaktu sinar terang
Graduated Neutral
Density (GND)
Mengontrol gradien kekuatan cahaya
Mengurangi Vignetting
Landscape dengan efek dramatis
UV / Haze Menambah kecerahan pada film
Memberikan proteksi pada lensa depan
Apapun
Warming / Cooling Mengubah White Balance Landscapes, Fotografi bawah air, Efek cahaya

Filter Neutral Density (ND)

tut_filters_ndexampleInti utama dari Neutral Density (ND) filter adalah mengurangi jumlah cahaya yang akan masuk ke dalam sensor / film Anda. Dengan semakin berkurangnya jumlah cahaya yang ada, maka faktu exposure akan bisa dibuat lebih lama daripada setingan standardnya. Beberapa situasi yang biasa menggunakan ND Filter adalah :

  1. Membuat subyek semakin blur / tidak terlihat pada mobil (orang) yang sedang berjalan
  2. Pergerakan riak-riak air sungai / pantai yang semakin halus seperti sutra
  3. Untuk mendapatkan Deep of field pada pencahayaan yang terang (kontras) terutama di siang hari

Masing-masing dari produsen filter ND mempunyai definisi (penamaan) serta besaran filter yang mereka produksi, berikut ini adalah tabel sederhana terhadap beberapa produsen filter ND yang terkemuka berikut efek yang ditimbulkannya :

Jumlah pengurangan cahaya Hoya, B+W and Cokin Lee, Tiffen Leica
f-stops Fraction
1 1/2 ND2, ND2X 0.3 ND 1X
2 1/4 ND4, ND4X 0.6 ND 4X
3 1/8 ND8, ND8X 0.9 ND 8X
4 1/16 ND16, ND16X 1.2 ND 16X
5 1/32 ND32, ND32X 1.5 ND 32X
6 1/64 ND64, ND64X 1.8 ND 64X

Rata-rata fotografer hanya membawa 1 atau 2 filter ND saja dengan selisih 1 hingga 2 f-stop. Karena semakin besar f-stop yang ada akan membuat exposure semakin lama walaupun pada kondisi siang bolong sekalipun. ;)

Linear & Circular Polarizing (LPL / CPL)

Polarizing filter (polarizer) banyak digunakan oleh kalangan pecinta landscape ataupun pemandangan alam. Karena sifat dari filter ini yang membuat jumlah refleksi cahaya yang terjadi menjadi semakin berkurang, seperti halnya pada permukaan air, kaca, langit dan lain sebagainya. Efek paling menonjol yang terlihat dari penggunaan filter ini adalah warna langit yang ‘semakin kelihatan biru tua’ jika dibandingkan dengan tanpa menggunakan filter ini.

tut_filters_polarizerofftut_filters_polarizeron

(foto kiri : tanpa polarizer, kanan : dengan polarizer)

Linear vs Circular

Perbedaan utama antara linear polarizer (LPL) dan circular polarizer (CPL) adalah pada penggunaan metering dan autofokus otomatis pada kamera SLR Anda. Dimana filter CPL masih memungkinkan berfungsinya metering serta autofokus otomatis langsung dari kamera seperti halnya tidak dipakainya filter tersebut. Sedangkan pada LPL, selain harganya yang relatif lebih mahal daripada versi CPL nya, tapi autofokus serta metering yang menggunakan sistem Through The Lens (TTL) tidak dapat digunakan ketika filter LPL terpasang pada lensa Anda. Ada satu yang memungkinkan yaitu forego metering dan autofokus, tapi hal tersebut sangatlah jarang diinginkan oleh siapapun juga. ;)

Graduated Neutral Density (GND)

Filter ini digunakan untuk ‘membatasi’ jumlah cahaya yang masuk kedalam sensor / film secara gradasi (separasi) yang mengikuti patern (pola) tertentu. Filter ini kadangkala disebut juga dengan ‘split filter’. Penggunaan filter ini biasa digunakan pada pemotretan landscape terutama untuk pemotretan dengan sistem pencahayaan yang dibuat secara gradasi dari terang ke gelap, seperti : sunset (matahari terbenam) / sunrise (matahari terbit).

Posisi ‘blend’ dari gradasi yang tepatlah yang bisa menghasilkan efek dramatis dari sebuah foto. Ada berbagai macam tipe blend gradasi yang bisa didapatkan di pasaran saat ini, antara lain : soft edge, hard edge dan radial edge. Dimana masing-masing ‘edge’ mempunyai kelebihan dan kekurangannya.

tut_filters_gndblacktopsfilter tut_filters_ndexample

Satu hal penting lainnya didalam peletakan dari filter ini adalah jangan sampai Anda keliru menaruh posisi edge dari gradasi filter, yang bisa mengakibatkan hasil foto Anda menjadi ‘aneh’ dan ‘tidak realitis’. Contoh diatas adalah peletakan edge yang umum digunakan.

UltraViolet (UV) / Haze

Penggunaan filter UV / Haze dewasa ini lebih dikarenakan untuk melindungi lensa bagian depan agar tidak mudah tergores ataupun terkena kotoran. Karena sifat sinar UltraViolet (UV) yang tidak terlihat oleh mata telanjang, maka filter ini biasa disebut dengan ‘filter clear’. Jika filter ini digunakan pada kamera yang menggunakan film, maka akan mengurangi efek haze (haze) serta menambah kontras dari warna karena berkurangnya warna-warna UV. Sedangkan pada kamera digital yang menggunakan sensor, filter UV ini ‘hampir’ tidak ada pengaruhnya sama sekali, karena kepekaan sensor yang semakin canggih sehingga bisa tereduksi sinar-sinar UV oleh sistem yang ada pada sensor digital.

Pada beberapa filter UV yang biasa bisa menyebabkan penurunan kualitas gambar yang dihasilkan, serta menimbulkan efek flare terhadap cahaya. Tapi untuk filter UV yang telah multi-coated hal tersebut telah diminimalisir sehingga ‘mata awam’ seolah-olah tidak melihat perbedaan yang signifikan terhadap hasil akhirnya.

Fungsi bonus dari filter UV ini adalah menaikkan harga jual kembali dari lensa tersebut. Karena kondisi dari lensa yang ‘terlindungi’ dari goresan / kotoran, sehingga lensa seken tersebut layaknya lensa baru.

Cool / Warm Filter

tut_filters_colorcastFilter ini digunakan untuk ‘mengubah’ white balance dari kamera sehingga menimbulkan efek yang lebih hangat / dingin dari foto yang dihasilkan. Filter ini sangat populer pada saat era kamera film, dan pada saat era kamera digital mulai marak filter ini mulai ditinggalkan oleh kalangan fotografer. Karena setting dari white balance bisa diatur secara ‘langsung’ didalam kamera digital masa kini.

Namun filter ini masih banyak digunakan untuk kalangan fotografer yang menekuni bidang ‘underwater photography”. Karena sifat dari pencahayaan yang sejenis (monocrome) dibawah air, maka dibutuhkan filter yang bisa memberikan sedikit ‘warna’ pada hasil akhirnya.

Tips memilih filter lensa

Berikut ini adalah tips-tips memilih filter untuk lensa Anda :

  1. Pastikan ukuran depan dari lensa kamera Anda terlebih dahulu sebelum membeli filter jenis apapun. Masing-masing lensa memiliki ukuran yang biasanya tertulis secara jelas dibagian depannya. Misal 58mm, 77mm, dst.
  2. Beli filter pada toko yang terkemuka untuk menghindari produk palsu yang akan Anda beli.
  3. Cek harga terlebih dahulu untuk masing-masing filter sebagai acuan awal sebelum Anda membelinya. Harga filter saat ini relatif terjangkau mulai dari yang seharga ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah, tergantung dari bahan serta kualitasnya.
  4. Pilih filter yang telah melalui proses multicoating agar tidak lekas rusak. Harga memang relatif lebih mahal dari filter yang biasa.
  5. Jangan terlalu sering melepas pasang filter pada lensa Anda, karena dapat merusak ulir yang ada pada bagian depan lensa / bagian belakang filter.

Semoga informasi diatas dapat berguna buat kita semua, dan sampai jumpa pada artikel yang lainnya.

Picture & Inspired from : http://www.cambridgeincolour.com/tutorials/camera-lens-filters.htm

Secara umum fotografi dapat diartikan sebagai teknik pengambilan gambar suatu objek melalui pantulan cahaya. Agar bisa mendapatkan sebuah gambar yang menarik, tidak selalu membutuhkan peralatan fotografi mahal, cukup dengan menggunakan kamera saku kamu juga dapat melahirkan karya-karya indah layaknya fotografer profesional. Berikut adalah beberapa trik dasar fotografi yang dapat kamu pelajari.

Mode manual
Semakin majunya perkembangan teknologi kamera saat ini, memberikan kita banyak kemudahan dalam memotret tanpa perlu pusing dengan pengaturan kamera. Adanya fitur otomatis seakan membutakan kita terhadap hasil foto yang memiliki nilai seni. Namun sayangnya, tidak semua tema foto bisa dihasilkan melalui fitur otomatis, seperti halnya foto siluet. Mode manual lebih banyak menawarkan hasil yang sesuai dengan keinginan, sebab kita sendiri yang mengatur pencahayaan dan berbagai pengaturan lainnya. Belajar dengan menggunakan mode manual akan membuat kita paham dengan sistem kerja kamera serta mendorong kita menjadi lebih kreatif.

Flash
Agar dapat memperoleh gambar yang natural, sebaiknya hindari penggunaan lampu flash. Cahaya dari lampu flash justru sering kali malah akan merusak obyek, karena foto akan terlihat datar dan kehilangan warna aslinya. Untuk mendapatkan hasil terbaik pada pemotretan di luar ruangan, ada baiknya kamu memilih waktu-waktu yang sering disebut dengan the golden moment, yaitu antara pukul 07.00-08.00 dan pukul 17.00-18.00.

Pengaturan ISO/ASA
ISO (international standart organization) adalah sebuah fitur satuan tingkat kepekaan cahaya yang ada pada setiap kamera. Pada pemotretan dengan obyek pemandangan atau di dalam ruangan, sangat disarankan untuk menggunakan ISO terendah. Sebab ini memungkinkan kita untuk bisa mendapatkan gambar yang lebih detil dan halus, sehingga gambar bisa diperbesar dengan maksimal. Lain hal jika obyek foto adalah manusia, ISO tinggi sangat dibutuhkan untuk bisa menangkap setiap pergerakan dengan tepat.

White balance
Kalau yang ini merupakan pengatur suhu warna pada kamera. Di dalamnya terdapat beberapa menu pilihan seperti, daylight, shade, cloudy, tungsten, AWB, dan lain sebagainya. Aturlah sesuai dengan keadaan cahaya dimana kamu memotret. Pilihan yang tepat akan menghasilkan warna gambar sesuai dengan warna aslinya, sebagaimana terlihat oleh mata kita.


Tentang aturan 1/3
The golden section, kata-kata itu sering disebut oleh pakar fotografi sebagai rumusan nilai estetika sebuah foto. Maksudnya adalah mengenai penempatan obyek utama, diposoisikan 1/3 dari keseluruhan bidang gambar. Para fotografer profesional meyakini, bahwa posisi ini paling pas bagi mata orang yang melihat foto tersebut.

Lensa
Jangan pernah lupa untuk memperhatikan kebersihan lensa, sebab sering kali adanya debu ataupun bekas sidik jari akan sangat mempengaruhi kualitas gambar. Bersihkanlah lensa secara berkala dan hindari tempat-tempat yang lembab untuk menyimpannya, agar lensa kamera tidak terserang jamur.

Melihat obyek secara fotografis
Bagi mereka yang baru mendalami dunia fotografi, mungkin masih sedikit mengalami kesulitan untuk melihat sesuatu dari sisi fotografis. Buat melatihnya, gunakanlah jari tangan dan bentuklah sebuah frame sebelum mengambil gambar. Dengan cara ini, setidaknya kita dapat mengetahui kemungkinan hasil jepretan yang akan diperoleh.

Photoshop
Saat era digital menyerbu, kamera SLR pun berubah menjadi DSLR. Nah, sebagai fotografer, tentu saja kita juga harus mengakrabkan diri dengan software pintar yang satu ini. Dalam rangka memaksimalkan gambar-gambar digital yang kita peroleh, supaya tampak lebih menarik, dramatis atau apapun yg kita inginkan.

Source : caramelcoklat

Ada dua jenis lensa yang cocok, masing masing memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri

1. Lensa berbukaan besar

Semakin besar bukaan maksimum lensa, semakin besar cahaya yang bisa masuk melalui lensa ke sensor kamera. Oleh sebab itu semakin besar bukaan maksimum lensa semakin baik digunakan untuk foto di kondisi gelap. Contohnya adalah lensa berbukaan f/1.4, f/1.8, f/2, f/2.8. Semakin kecil angka f/ nya semakin besar bukaannya.

Kekurangan lensa berbukaan besar yaitu biasanya lensa ini banyak terdapat pada lensa prime/fixed/non-zoom dan jarang ditemui di lensa zoom. Selain itu, bila mengambil foto dengan bukaan besar, kedalaman bidang menjadi tipis karena itulah, ketika kedalaman ruang dan ketajaman dari sudut ke sudut dan depan ke latar belakang belakang foto penting, lensa ini menjadi kurang ideal.

2. Lensa atau kamera dengan built-in image stabilizer / peredam getar

Dengan peredam getar, Anda bisa membuka shutter speed / kecepatan rana dengan lebih lama tanpa takut foto menjadi kabur karena getaran kamera. Rata-rata fitur ini bisa membantu memberi jalan masuk cahaya dua sampai tiga stop (sekitar 4-8 kali lipat).

Maka dari itu bila jenis foto yang mementingkan ketajaman dari ujung ke ujung seperti pada foto pemandangan atau still life (benda mati atau produk), maka mengunakan lensa atau kamera berperedam getar merupakan pilihan yang baik.

Meski sangat membantu, tapi image stabilizer ini tidak bisa membekukan gerakan subjek foto. Bila subjek foto bergerak, maka akan tampak kabur di fotonya.

3. Lensa atau kamera dengan built-in image stabilizer / peredam getar

Ada pula lensa yang berbukaan besar, dan juga memiliki image stabilizer. Ini adalah lensa yang paling ideal, tapi biasanya lensa ini ukuran dan beratnya cukup besar dan juga relatif mahal. Contoh: Canon 17-55mm f/2.8 IS USM sekitar 9 juta, 70-200mm f/2.8 IS / VR : sekitar 20 juta

source : infofotografi.com

1. Apa itu lensa?

Lensa adalah lubang tempat masuknya cahaya ke kamera. Kita dapat mengendalikan jumlah cahaya yang masuk melalui lensa dengan mengubah nilai bukaan/aperture/diafragma.

Bukaan lensa menentukan ruang tajam. Semakin besar bukaan, ruang tajam semakin tipis sehingga latar belakang menjadi blur. Semakin kecil bukaan, semakin luas ruang tajam, sehingga latar belakang terlihat lebih jelas dan tajam.

2. Lensa zoom dan lensa fix/non-zoom

Ada lensa zoom yang memiliki jarak fokus yang bisa diubah-ubah untuk membesarkan objek foto, tapi ada juga yang memiliki lensa fix. Keunggulan utama lensa fix adalah bukaannya yang besar sehingga mudah membuat latar belakang menjadi blur dan juga piawai di kondisi cahaya yang gelap. Selain itu ukurannya kecil. Namun karena gak bisa zoom, maka fotografer perlu zoom dengan mengunakan kaki, alias berpindah-pindah.

3. Lensa makro dan non-makro

Perbedaan lensa makro dan non-makro terletak pada kemampuannya untuk bisa fokus lebih dekat dari subjek dan perbesarannya. [Baca serba-serbi lensa makro]. Banyak lensa makro yang di desain lebih tajam daripada lensa biasa untuk mengeluarkan detail objek foto.

4. Lensa sapujagat

Titel lensa sapujagat biasanya diberikan untuk lensa yang bisa zoom dari lebar sampai telefoto (jauh) seperti 18-200mm. Lensa ini populer karena kita tidak harus capai-capai mendekati objek foto, tinggal di zoom saja. Tapi masalahnya lensa seperti ini kualitasnya tidak begitu baik, relatif mahal dan cukup berat. Pertimbangkan untuk memiliki beberapa lensa yang lebih khusus (sesuai kebutuhan) daripada satu lensa sapujagat karena gak ada lensa yang sempurna untuk segala kondisi.

5. Zoom bukan sekedar zoom

Setiap jarak fokus lensa (focal length) menghasilkan foto dengan karakteristik sendiri-sendiri. Lensa lebar menghasilkan efek yang seperti tiga dimensi. Lensa standar menghasilkan foto yang sesuai dengan perspektif mata manusia, dan lensa telefoto menghasilkan efek dua dimensi.

6. Kualitas foto yang dihasilkan tergantung lensa

Lensa sangat mempengaruhi hasil foto. Ada lensa yang menghasilkan foto yang tajam sekali, ada juga yang lembut. Ada yang kontras, tapi ada yang tidak. Ada pula yang memiliki bagian out of focus (bagian yang tidak fokus) yang indah, ada juga yang bagian out of focusnya terlihat berantakan. Semua tergantung selera. Untuk menghasilkan foto yang bervariasi, setiap fotografer yang berpengalaman biasanya memiliki lebih dari satu lensa yang dipakai tergantung foto jenis apa yang ingin dicapai.

7. Kualitas optimal lensa biasanya terletak dua stop dari bukaan maksimumnya

Hasil foto pada umumnya tidak terlalu baik bila kita mengunakan bukaan maksimal lensa. Bila kita menutup bukaan sekitar dua f-stop, maka kualitas foto akan lebih baik.

Angka f-stop pada bukaan adalah rasio jarak fokus lensa dengan diameter bukaan. Urutan f-stop pada lensa yaitu f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11 – f/16 – f/22 dan seterusnya. Setiap perubahan dari f/1.4 ke f/2 kita sebut perubahan satu f-stop. Perubahan dari f/1.4 ke f/2.8 kita sebut perubahan dua f-stop.

8. Beda lensa mahal dengan lensa yang murah

Lensa yang murah material casingnya biasanya dari plastik dan tidak begitu tahan banting. Kualitas lensanya sendiri juga bukan dari bahan yang terbaik. Hasil foto agak bervariasi karena kualitas kontrol yang tidak begitu ketat. Hasil foto juga tidak konsisten (tidak selalu baik) di setting bukaan atau jarak fokus yang berbeda-beda.

Sebaliknya, lensa yang berkualitas tinggi menghasilkan foto yang lebih baik dan juga casing lensa yang lebih tahan banting dan sebagian tahan air dan cuaca buruk. Lensa yang mahal dan berkualitas mahal biasanya purna jualnya juga cukup tinggi.

9. Awas filter murah!

Filter murah bisa membuat foto menjadi kurang baik. Meskipun lensa yang dipakai sangat mahal, tapi kalau filter yang dipakai jelek, maka hasilnya akan jelek. Hal ini karena filter merupakan elemen lensa tambahan yang berpengaruh ke hasil foto. Pertimbangkan untuk membeli filter yang baik terutama lensa yang dipakai berkualitas tinggi. Bila tidak, sekalian gak usah pakai filter.

10. Beli lensa yang terbaik semampunya

Dulu saya membeli lensa yang tanggung-tanggung, karena kurang menyukai kinerjanya, akhirnya dijual dan tukar dengan yang kualitasnya lebih baik. Tidak seperti kamera, saya menganjurkan untuk tidak pelit-pelit dalam membeli lensa. Lensa mempengaruhi hasil foto dan harga purna jualnya tidak drop seperti kamera. Beli yang terbaik semampunya (jangan memaksakan diri dengan utang). Karena membeli lensa yang berkualitas biasanya tidak akan menyesal.

Source : infofotografi.com

Karena banyak sekali pertanyaan-pertanyaan ke saya tentang rekomendasi lensa untuk kamera tertentu, maka saya mendedikasikan tulisan ini untuk menjawab pertanyaan saudara-saudara. Harap diingat kalau rekomendasi ini berdasarkan lensa yang tersedia sampai hari ini (Maret 2011) dan harga hanya perkiraan saja dan bisa berubah.



Canon-EOS-550D

Rekomendasi lensa untuk kamera Canon 1000D, 1100D, 450D, 500D, 550D, 600D

  • Canon EF 50mm f/1.8 Rp 700-800rb – Sulit untuk tidak merekomendasikan lensa mungil dan murah ini. Termasuk lensa termurah tapi nilai kualitas yang diberikan sangat baik, terutama untuk foto portrait.
  • Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS Rp 2 juta – Lensa telefoto yang terjangkau tapi hasil yang diperoleh cukup lumayan. Biasanya digunakan untuk foto potret, candid, satwa liar dll.
  • Sigma 10-22mm f/4-5.6 HSM Rp 5.3 juta – Lensa lebar untuk foto pemandangan, arsitektur, liputan acara.
  • Sigma 17-50mm f/2.8 OS HSM Rp 6.2 juta – Lensa praktis untuk foto di kondisi cahaya yang gelap dan efektif membuat latar belakang kabur.
  • Canon EF-S 60mm f/2.8 USM Macro Rp 4 juta – Lensa makro buat foto detail produk, serangga, bunga, makanan dan lain-lain

canon7d

Rekomendasi lensa untuk kamera Canon 40D, 50D, 60D, 7D

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-5.6 Rp 6 juta – Lensa lebar untuk foto pemandangan, arsitektur, liputan acara.
  • Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM Rp 6.5 juta – Lensa untuk kegiatan sehari-hari yang lebih praktis dan lebih tajam daripada lensa zoom biasa.
  • Canon EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM Rp 8.7 juta – Lensa praktis serbaguna, mantap di kondisi cahaya yang kurang baik.
  • Canon EF 70-200mm f/4 atau f/2.8 IS Rp 10.4 - 19 juta – Lensa telefoto untuk acara keluarga, potret, satwa liar, candid dsb. Saya menyarankan versi yang ada IS bila dana mencukupi.
  • Canon EF-S 60mm f/2.8 USM Macro Rp 4 juta – Lensa makro buat foto detail produk, serangga, bunga, makanan dan lain-lain
  • Canon EF 85mm f/1.8 USM Rp. 3.2 juta – Lensa ini auto fokusnya sangat cepat dan hasilnya lembut, cocok untuk foto potret kecantikan, candid atau acara olahraga di dalam ruangan seperti bola voli.

canon-1dmarkiv

Rekomendasi lensa untuk kamera Canon 5D mk II, Canon 1D dan 1Ds series

  • Canon EF 16-35mm f/2.8 Rp 13.4 juta – Lensa lebar untuk foto pemandangan, arsitektur, liputan acara.
  • Canon EF 24-70mm f/2.8 Rp 12 juta – Lensa praktis untuk foto di kondisi cahaya yang gelap dan efektif membuat latar belakang kabur.
  • Canon EF 70-200mm f/2.8 IS Rp 19 juta – Lensa telefoto untuk acara keluarga, potret, satwa liar, candid dsb.
  • Canon EF 50mm f/1.2 – Rp 13.3 juta Lensa berbukaan sangat besar ini baik untuk potret kecantikan dan kondisi cahaya yang sangat gelap
  • Sigma 85mm f/1.4 HSM Rp 8 juta – Lensa fix spesialis potret kecantikan atau candid
  • Canon EF 100mm f/2.8 L IS USM Macro Rp 7.3 juta – Lensa makro buat foto detail produk, serangga, bunga, makanan dan lain-lain



Banyak orang yang tidak ingin direpotkan dengan ritual ganti-ganti lensa dan membawa lensa tambahan, oleh sebab itu, lensa sapujagat lahir. Lensa ini memiliki jangkauan fokus yang luas, dari lebar sampai panjang (tele).







Inilah lensa sapujagat yang saya rekomendasikan:

1. Nikon 18-200mm VR f/3.5-5.6 VR versi II – harga sekitar 6.5 – 7 juta

Kalau memakai kamera Nikon, lensa ini bisa dibilang yang terbaik dari kualitas foto dan desain bodinya. Performa auto fokus juga bisa diandalkan. Kualitas fotonya sangat baik dan tajam di 18-70mm, setelah itu kualitasnya akan merosot terutama antara 135-200mm. Selain itu, harganya relatif tinggi dan mungkin lebih mahal dari kamera Anda.

2. Canon 18-200mm f/3.5-5.6 IS – harga sekitar 5.5 – 6 juta

Kualitas foto mungkin tidak setajam Nikon di 18-70mm, tapi secara keseluruhan, lensa ini lebih konsisten dari Nikon, terutama untuk foto jarak jauh (tele). Harganya juga jauh lebih murah. Sayangnya auto fokusnya masih mengunakan teknologi lama, jadi masih ada suara dan kurang cepat. Untuk pengguna kamera Canon, lensa ini adalah pilihan terbaik.

3. Tamron 18-270mm f/3.5-6.3 VC Macro – harga sekitar 5 juta

Lensa ini adalah lensa dengan jangkauan paling jauh dibandingkan dengan lensa diatas. Kualitas foto cukup baik dari 18-135mm setelah itu agak menurun terutama di ujungnya, yaitu 200-270mm. Lensa ini layak menjadi pilihan bila Anda ingin memiliki lensa yang berjangkauan sangat jauh, seperti foto satwa liar (wildlife). Kekuranganya (seperti lensa Tamron secara umum) terletak pada performa auto fokus yang sedikit berisik dan sering gagal mengunci subjek foto.

4. Tamron 18-250mm f/3.5-6.3 Macro – harga sekitar 3 juta

Harga paling murah, bukan berarti paling jelek, tapi sebaliknya, kualitas foto lebih konsisten daripada lensa Tamron 18-270mm diatas dan Sigma 18-250mm dibawah. Ukurannya juga lebih kecil dan ringan, cocok untuk dibawa jalan-jalan. Kekurangannya adalah tidak memiliki built-in stabilizer, jadi pengguna kamera Canon / Nikon agak kesulitan bila foto di ruangan yang gelap.

5. Sigma 18-250mm f/3.5-6.3 OS HSM – harga sekitar 5 juta

Desain lensa ini dan performa auto fokusnya lebih cepat, hampir tidak bersuara dan lebih akurat dari lensa-lensa Tamron diatas. Tapi kualitas fotonya malah kurang konsisten. Misalnya di jarak fokus 18mm foto tajam, tapi di 50mm, tidak tajam.

source : infofotografi.com



Apa beda exposure compensation dan flash compensation?

Bedanya:

flash compensation

flash compensation

Flash compensation hanya mempengaruhi daerah yang disinari lampu kilat (foreground) dan tidak mempengaruhi daerah yang tidak disinari lampu flash (background).

Sedangkan

Exposure compensation mempengaruhi keseluruhan pencahayaan, baik foreground maupun background.

Dalam prakteknya, kita mengubah nilai flash compensation bila kita daerah yang diterangi lampu kilat terlalu terang / gelap. Sedangkan kita mengubah nilai exposure compensation bila keseluruhan foto (baik foreground dan backgroudn terlalu terang).

exposure-compensation-button

simbol exposure compensation

Ada juga saat kita mengubah keduanya, misalnya saat daerah yang diterangi lampu kilat terlalu gelap, sedangkan latar belakang terlalu terang, kalau demikian, kita menurunkan nilai exposure compensation, dan kemudian menaikkan nilai flash compensation sebanyak dua kali dari nilai exposure compensation.

Gak bingung lagi kan?

source :infofotografi.com

wibiya widget