Read more: http://bambang-gene.blogspot.com/2011/03/pasang-meta-tag-di-blog-supaya-seo.html#ixzz1FYQ9VUp5 TUNGKAL FOTOGRAFI

TUNGKAL FOTOGRAFI

TUNGKAL FOTOGRAFI BELAJAR DAN SALING BERBAGI INFORMASI

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis
Ensiklopedia Tips Tutorial

Free Online Software Download

Silahkan Gabung

apakah anda suka

ARTIKEL TERBARU

Thumbnail Recent Post

Pelabuhan Roro Tungkal Jambi

Nuansa senja di kota tungkal pesisir jambi

Landscafe sunset lokasi sungai pengabuan

Sunset dan degradasi awan yang merupakan fenomena alam yang kita tidak dapat memprediksikannya kapan dia berubah

Sunset lokasi sungai betara

SUNSET

Saat senja menjelang di kota kuala tungkal pantai pesisir jambi


Dalam artikel ini kita akan coba membahas tips foto panning sebagai lanjutan dari tips panning dasar yang pernah dibahas sebelumnya. Foto panning adalah foto yang memperlihatkan kesan bergerak pada sebuah subyek, dengan membuat background menjadi blur sementara subyek utama tetap tajam. Foto panning bisanya dibuat dengan menggerakkan kamera searah dengan gerakan subyek.


Dalam kenyataannya, dengan latihan yang cukup dan sedikit tips dibawah ini anda pasti akan bisa membuat foto panning yang bagus (lihat 20 Foto Panning Fantastis). Silahkan:
1. Siapkan Kamera Untuk Foto Panning
Untuk mmebuat foto panning, gunakan mode shutter priority – T atau Sv sehingga kita bisa mengeset shutter speed di angka yang lebih rendah dibanding yang biasa kita gunakan. Berapa besar shutter speed yang harus dipakai tergantung pada kecepatan gerakan subyek yang akan difoto dan kecepatan relatif subyek terhadap kamera, dan bisanya hal inilah yang harus banyak dilatih.
Shutter speed untuk membuat panning orang yang naik sepeda tentu berbeda dengan shutter speed untuk foto panning balapan motor tentunya. Sama-sama balapan motor namun kalau motornya melaju lurus tepat didepan kita atau sedang berbelok ditikungan juga berbeda.


Aturannya adalah, saat subyek yang dipanning tampak kurang tajam naikkan shutter speednya. Saat bacjground kurang blur, turunkan shutter speednya.
Berikut beberapa contoh shutter speed yang bisa dipakai diawal, namun semuanya tetap harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan:


Orang joging/ sepeda biasa dijalanan: 1/20 detik
Sepeda gunung uphill/downhill: 1/30 sampai 1/50 detik
Mobil: sekitar 1/50 detik
Balapan motor/mobil : 1/100 sampai 1/200 detik


2. Cara Fokus untuk Panning
Saat foto panning, kita bisa memakai autofokus ataupun manual fokus. Namun biasanya manual fokus akah lebih konsisten meski tentu saja lebih membutuhkan latihan dan kesabaran. Anda bisa menggabungkan kedua mode fokus: gunakan autofokus untuk mengeset titik fokus pada titik dimana subyek akan berada (antisipasilah dimana posisi subyek akan berada), lalu setelah terkunci, switch ke manual fokus (MF).
Set frame yang cukup lebar, jangan terlalu ketat, kasih ruangan didepan dan belakang subyek sehingga kita cukup leluasa melakukan panning dan subyek secara utuh tertangkap dalam frame.


3. Menggerakkan Lensa dan Kamera
Kita harus memastikan memiliki cukup ruangan agar kamera dan lensa bisa mengikuti arah gerakan subyek tanpa ada benda (atau orang) yang menghalangi didepan kita. Agar subyek tetap terlihat tajam, gerakan lensa harus tenang dan stabil dan arahnya hanya pada sumbu horisontal: dari kanan ke kiri atau sebaliknya tanpa diikuti naik/turun, kuncinya sekali lagi latihan. Semakin lembut dan tenang cara kita mengikuti pergerakan dan irama subyek utama, makin tajam mereka terlihat di foto. Kita juga bisa memanfaatkan monopod untuk panning.

source :http://belajarfotografi.com/tips-foto-panning/



Artikel ini memberikan gambaran garis besar dan karakteristik mode pengoperasian auto dan scene pada kamera digital anda (rata-rata kamera saku dan SLR pemula selalu menyertakan kedua mode ini). Mode auto saat ini sudah lumayan handal untuk sekedar menghasilkan foto yang benar. Dan mode scene merupakan jalan tengah bagi fotografer yang ingin menambah kreativitas namun malas menggunakan mode manual.
Apakah dengan itu kita tidak perlu memahami mode manual? jawabannya tergantung sejauh mana kepentingan pemotret. Namun yang jelas mode manual menawarkan fleksibiltas dan kreativitas dalam menghadapi situasi apapun dan dalam menghasilkan foto yang benar-benar sesuai dengan kehendak artistik kita. Karena foto yang benar belum tentu foto yang baik.

Untitled-1
Oke mari kita kembali ke mode auto dan mode scene yang paling banyak digunakan:

  1. Mode Auto (A)Tidak perlu penjelasan apapun, pada intinya kita percayakan pemilihan keseluruhan setting (shutter-aperture-ISO-White Balance & Flash jika ada) pada otak di kamera. Kamera akan berusaha menebak karakteristik seluruh obyek dalam frame serta kondisi cahayanya lalu menentukan semua besaran setting diatas. Mode ini efektif untuk pemula, tetapi hanya menghasilkan foto yang benar namun bukan luar biasa
  2. Mode Portrait (biasa dilambangkan dengan ikon dengan kepala wanita)Kamera akan memilih DOF yang sempit (angka aperture sekecil-kecilnya) sehingga obyek yang di foto akan terisolasi dari background, sehingga ruang fokus hanya akan berada pada subyek saja sementara background terlihat kabur.
  3. Mode Macro (biasa dilambangkan dengan ikon bunga)
    Mode ini diperlukan saat kita ingin mengambil foto benda-benda kecil dari jarak dekat (close-up). Dengan mode ini, kita bisa mendekatkan  ujung lensa sedekat-dekatnya (biasanya antara 2-8 cm dari obyek) sehingga benda sekecil apapun akan terlihat cukup besar dan detail.
    Dalam jarak sedekat ini, kita harus mengusahakan agar bidang obyek yang difoto sejajar dengan kamera, dan sebisa mungkin menggunakan tripod sehingga hasilnya tajam dan bidang fokusnya cukup.Akan saya pakai saat:
    -    Saya memotret bunga, serangga, kupu-kupu, atau uang koin. Atau,
        -    Saya akan memotret makanan sehingga memenuhi seluruh frame foto saya
  4. Mode Sport (biasa dilambangkan dengan ikon orang berlari)Mode ini dirancang untuk membekukan gerakan. Di mode ini, kamera akan memperkecil shutter speed sekecil mungkin sehingga ketika membidik subyek bergerak  foto yang dihasilkan akan tetap tajam. Flash akan dimatikan dan hanya bekerja saat cahaya cukup. Akan saya gunakan ketika:-    Saya memotret anak saya yang sedang menggiring bola
    -    Saya akan memotret sebuah mobil yang sedang melaju
  5. Mode landscape (biasa dilambangkan dengan ikon gunung)Mode ini adalah kebalikan dari mode portrait. Kamera akan menggunakan angka aperture sebesar mungkin, sehingga bidang fokus foto (Depth of Field – DOF) bisa seluas mungkin. Dengan begitu  keseluruhan bagian foto dalam frame akan tajam. Sesuai namanya, mode ini didesain dipakai saat kita memotret pemandangan alam, namun juga bisa digunakan saat memotret orang namun kita ingin background tetap terlihat tajam. Saya gunakan mode landscape saat:-    Memotret terasiring yang indah di Bali
    -    Memotret 10 orang yang berpose didepan Candi Borobudur
  6. Mode Night (dilambangkan dengan ikon bintang atau bulan)Mode ini didesain untuk bekerja dalam kondisi cahaya yang minim, baik saat malam maupun kita berada dalam ruangan yang remang.  Kamera akan menaikkan ISO supaya dalam kondisi remang-pun sensor masih mampu menangkap cahaya dengan baik, mode ini juga berusaha membuat shutter speed yang lebih lama sehingga gambar tidak terlalu kabur dan biasanya secara otomotis flash bawaan kamera akan ikut menyala. Saya memakai night mode saat:-    Mengambil foto dalam sebuah pesta malam
    -    Memotret jalanan dimalam hari
  7. Mode Beach / Snow Menyeimbangkan eksposur supaya putih-nya salju atau pasir pantai tidak kehilangan detailnya dan juga tidak terlalu pucat dengan menaikkan eksposur. White balance diset di sinar matahari.
  8. Mode FireworksTanpa flash, shutter speed diset lumayan lama untuk merekam pergerakan percikan kembang api dengan baik. Mode ini sebaiknya diimbangi dengan memakai alat bantu untuk menstabilkan kamera supaya tidak goyang, misal tripod.
    pno
  9. Mode Panorama – memotret urutan foto yang nantinya akan digabung sebagai panorama



Apa Itu Mode Bulb?
Ada satu seting khusus di hampir semua kamera DSLR dan kamera mirrorless, yaitu mode BULB atau BULB Setting. Mode ini biasanya ditandai dengan notasi B di kamera digital anda. Nah sekarang lihat baik-baik kontrol kamera anda, kalau ada huruf B disitu berarti dia berfungsi mengaktifkan mode bulb, putar sampai di B dan kalau di LCD sudah tertulis bulb berarti anda sudah siap memotret bulb.


Jetty oleh Giles McGarry (exposure 2 menit)
Bulb mode adalah salah satu setting khusus, dimana kita bisa menggunakan shutter speed diatas 30 detik, bahkan kita bisa menggunakan shutter speed selama yang kita mau. Rentang shutter speed maksimum dikamera DSLR biasanya mentok diangka 30 detik, nah dengan mode Bulb ini kita bisa menggunakan shutter speed jauh diatas itu.
Kata bulb muncul karena dijaman baheula, kakek nenek fotografer pendahulu menggunakan gelembung angin dalam karet (bulb) yang menekan mekanisme shutter sehingga membuka.



Kombinasi Lampu Kilat dan Rana Lambat
Anda mungkin pernah berfoto dengan latar belakang suasana kota malam hari. Untuk menerangi diri, lampu kilat dinyalakan. Namun, yang terjadi adalah latar belakang sama sekali tidak terekam dalam foto alias latar belakangnya gelap total. Benar pernah mengalami seperti itu?
Kalau memang benar pernah mengalami, yang terjadi adalah Anda salah mengombinasikan kecepatan rana dan pemakaian lampu kilat.
Lampu kilat adalah pencahayaan dengan durasi nyala sangat cepat, bisa sekitar 1 per 2.000 detik. Dengan demikian, lampu kilat sebenarnya tidak terpengaruh dengan kecepatan rana yang kita pilih. Dalam fotografi, lampu kilat dan kamera cuma punya hubungan dengan yang disebut ”kecepatan sinkron”, yaitu kecepatan rana tertinggi yang masih bisa menghasilkan gambar dengan baik.
Kalau kecepatan rana kamera melebihi kecepatan sinkronnya, gambar akan separuh hitam. Apabila lampu kilat dan kamera satu merek, saat Anda memasang kecepatan setinggi mungkin, sang kamera akan secara otomatis menurunkannya menjadi kecepatan sinkron saja.
Sementara itu, kalau Anda menurunkan kecepatan rana sampai seberapa pun, itu tidak akan memengaruhi sifat pencahayaan dari lampu kilatnya.
Maka, kembali ke alinea pertama di atas, kalau Anda ingin latar belakang kota terekam dalam foto, Anda harus menurunkan kecepatan rana sampai selambat mungkin, misalnya 0,5 detik atau kalau perlu 1 detik atau bahkan 3 detik.
Foto-foto di halaman ini adalah kombinasi kecepatan rana lambat plus lampu kilat. Lampu kilat membekukan wajah model, sementara latar belakang lampion terekam karena kecepatan rana 2 detik. Untuk memberi efek lebih dari kecepatan lambat ini, selama rana terbuka kamera boleh Anda goyang-goyangkan atau lensa

Source : Arbain Rambey pada 14 Aug 2012 11:39http://kfk.kompas.com





zoom dimaju mundurkan.




Saatnya kita menuju tingkat mahir dalam fotografi bak seorang fotografer profesional. Tulisan ini merupakan lanjutan dari 2 artikel fotografi sebelumnya. Oh ya, tulisan ini saya tujukan buat fotografer pemula loh, jadi musti suwon dulu nih ama fotografer profesional, permisiii… >.<
Pemahaman mengutak-atik exposure triangle adalah “rahasia besar” keahlian seorang fotografer profesional, untuk kamera manual maupun digital (kita fokus pada yang digital aja yahh…)

Exposure adalah jumlah cahaya yang masuk ke dalam medium fotografis kamera (negatif film pada kamera manual dan sensor gambar pada kamera digital) saat pengambilan gambar.
Apabila jumlah cahaya yang masuk ke medium fotografis terlalu banyak, foto menjadi terlalu terang istilahnya overexposure, apabila terlalu sedikit foto menjadi terlalu gelap istilahnya underexposure, dan apabila foto sesuai dengan yang kita inginkan disebut dengan optimal exposureExposure Value (EV) adalah angka yang digunakan untuk mengetahui jumlah cahaya yang masuk.

13389865962131149042
1. Underexposure (ajuskoto)

1338986677240132127
2. Optimal Exposure (ajuskoto)

1338986707740428968
3. Overexposure (ajuskoto)

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi sedikit banyaknya jumlah cahaya yang masuk adalah ApertureShutter Speed dan ISO. Ketiga-tiganya saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisah-pisahkan sehingga sering disebut dengan Exposure Triangle.

1338988990711889713
4. Exposure Triangle

Nah, yang paling kerennya lagi nih, kalau dah benar-benar nguasain ketiganya, bisa menciptakan foto-foto tricky yang dahsyat, seperti di bawah ini:

13389910511826461787
5. Sarah Lee

13389911431845546873
6. Sarah Lee

13389890971617343825
7. Irrigation Sprinklers-Bobby Haas

13389877882108833916
8. Slow Shutter Effect-Claude Sadik

Untuk menghasilkan foto-foto keq di atas mah butuh kamera digital yang beneran atuuhhh (baca: DSLR Pro) heheheh..
Slow jazz… kalau pembaca benar-benar minat fotografi, gampang koq memahami ketiga hal ini, saya yakin pembaca akan memahaminya setelah selesai membaca tulisan ini yang merupakan pijakan untuk meloncat lebih tinggi ke angkasa dunia fotografi, trust me it works ^,^
Exposure Triangle

1. Aperture

Aperture adalah lubang/lingkaran di bagian depan kamera yang bekerja sama dengan shutter (diapraghma) untuk mengontrol jumlah cahaya yang masuk pada sensor gambar. Semakin besar diameter lubangnya semakin besar pula cahaya yang masuk. Selain mengatur cahaya yang masuk, aperture juga berfungsi untuk mengatur Depth of Field (DoF) (hadehh apa pulak DoF nie…? sabar yaaa.. ^_^).

Simbol ukuran besar kecilnya aperture adalah f-number atau f-stops, semakin besar f-number berarti semakin kecil diameter lubang (gambar 9).

1338999687432402897
9. www.nikonusa.com

Depth of Field (DoF)

DoF biasanya diterjemahkan dengan ruang tajam. Maaf, coba ambil pensil atau benda kecil yang lain, pegang dan letakkan kira-kira 30 cm di depan mata. Sekali lagi maaf (soalnya saya nyuruh-nyuruh nih >.< ), sekarang belalakkan mata anda menatap pensil tersebut (kira-kira 3 detik), kemudian picingkan mata anda sambil terus menatap benda itu.

Saat anda membelalakkan mata anda “gambar yang terlihat mata” disebut dengan ruang tajam lebar, dan saat anda memicingkan mata anda gambar yang terlihat disebut ruang tajam sempit. Saat anda memicingkan mata pensil akan terlihat lebih tajam atau lebih fokus, ya kan? Nah, itulah yang dimaksud dengan DoF, gampang memahaminya kan? ^_^

1339004336234934105
10. Pengaruh Aperture pada Depth of Field

Kembali ke laptop…ehh… kamera, semakin kecil angka f-stops semakin tajam DoF-nya, dan sebaliknya (gambar10). Background gambar kuda sebelah kiri lebih kabur daripada gambar yang di sebelah kanan. Trik ini sangat baik untuk foto close-up dan makro.

Animasi Aperture Effect

2. Shutter Speed

Shutter speed biasanya diterjemahkan dengan kecepatan rana. Shutter speed berfungsi untuk mengatur berapa lama sensor gambar terekspos cahaya yang masuk dalam satuan detik. Trik freez effect (gambar 5 dan 6) menggunakan shutter speed yang sangat cepat. Gambar bilah helikopter sebelah kiri terlihat kabur pada shutter speed 1/100 detik, sedangkan gambar sebelah kanan bilah terlihat seakan-akan berhenti (Gambar 13).

1339001642908509104
11. Pengaruh Shutter Speed pada Foto

Animasi Shutter Speed

3. ISO

ISO (International Standard Organization) merupakan istilah yang digunakan untuk menentukan sensifitas sensor film pada kamera digital. Istilah ini berasal dari jaman kamera manual untuk menyebutkan sensifitas emulsi kimia film terhadap cahaya (ASA) dimana satuannya adalah ISO dalam angka tertentu, ISO 100, 200, 400, 800, 1600, 3200 hingga 6400, tidak tertutup kemungkinan akan bertambah lagi. Namun istilah ISO masih digunakan hingga di era digital.

Biasanya pengaturan nilai ISO digunakan untuk mengoptimalkan exsposure, apabila settingan aperture dan shutter speed belum memuaskan. Semakin tinggi nilai ISO, semakin tinggi pula sensifitasnya terhadap cahaya. Sayangnya semakin tinggi nilainya efek berpasir (grainy) pada gambar semakin jelas (Gambar 12). Settingan ISO penting dalam fotografi malam, atau objek yang berada di ruangan/lingkungan yang remang-remang.

1339005344971682843
12. Efek Berpasir pada Foto

Ok deh… cara cepat untuk benar-benar memahami ketiganya adalah praktek langsung. Ketahui tombol-tombol pengatur ketiganya. Catat masing-masing angka saat pengambilan foto pertama, ubah angka salah satu faktor misalnya angka ISO, ambil foto, ubah lagi, ambil lagi, demikian seterusnya untuk faktor aperture dan shutter speed. Jangan lupa memberikan nama khusus pada tiap-tiap foto sesuai dengan settingan angka, ntar malah kebingungan heheheh.
Sebenarnya catatan settingan telah ada pada file-file tersebut yang bisa terlihat pada LCD kamera atau komputer menggunakan software ACD See atau Photoshop. Kalau memang tau caranya, berarti gak perlu dicatet dong angka-angkanya saat pengambilan foto >.<
Kemudian amati angka-angka ketiga faktor tersebut dan perubahan-perubahan yang terjadi pada hasil foto. Dengan demikian akan mudah memahami pengaruh masing-masing faktor. semoga bermanfaat....salam



Fotografi bukan segalanya tentang kamera. Dikatakan bahwa fotografi adalah seni bermain dengan cahaya. Tanpa adanya cahaya, maka mustahil fotografi itu ada. Menghasilkan sebuah gambar yang bagus, harus memiliki visi yang kuat dalam hal ‘melihat’. Memperhatikan cahaya, komposisi dan momen adalah hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam membuat foto yang dapat dikategorikan ‘bagus’. 

Namun, sepertinya mustahil dapat menghasilkan foto seperti itu jika tidak mengenal dan memahami dari masing-masing teknis fotografi dasar. Fotografi memang bukan segalanya tentang kamera, namun kamera adalah alat untuk menyalurkan visi kita itu. Maka, sekiranya perlu mengenal dan memahami bagaimana kamera bekerja. 

Tugas utama dari kamera adalah mengatur intensitas cahaya yang masuk dan pada akhirnya mengenai film/sensor (selanjutnya saya sebut medium). Apabila, kamera mengizinkan terlalu banyak cahaya yang masuk maka medium akan terbakar (overexposed). Dan sebaliknya. Bagaimana agar cahaya yang masuk itu tidak berlebih dan tidak kurang, atau dengan kata lain ‘pas’. Berikut saya jabarkan satu-satu. 

Aperture 
Atau yang sering juga disebut dengan difragma atau bukaan lensa adalah berfungsi untuk mengatur seberapa besar lensa akan terbuka. Fungsi ini lebih tepatnya terletak pada lensa. Logikanya, semakin besar bukaannya, maka akan semakin banyak cahaya yang akan masuk. Seperti sebuah kran air. Semakin besar kita buka keran tersebut maka akan semakin banyak air yang akan keluar.

Penulisan Aperture yang benar adalah f/x. Sehingga apabila dikatakan nilai Aperture-nya adalah 5.6, maka penulisan yang benar adalah f/5.6. Jadi jangan bingung apabila ada yang bilang bahwa bukaan lensa 2.8 lebih besar dari bukaan lensa 5.6. Karena kalau secara penulisan matematisnya memang benar khan? (f/2.8>f/5.6) Tapi kebanyakan kita malas untuk bilang f/2.8 atau f/5.6, karena kita orangnya simpel sih… 

Efek Samping dari Aperture 
Seperti obat batuk yang memiliki efek samping, begitu juga dengan aperture. Efek sampingnya adalah semakin besar bukaan lensa, maka akan semakin kecil daerah fokusnya. Dan sebaliknya. Daerah fokus inilah yang biasa dikenal dengan DOF (Depth of Field). 

Shutter Speed 
Atau yang biasa disebut juga dengan speed atau kecepatan rana bertugas untuk mengatur berapa lama mirror terbuka lalu menutup kembali untuk membatasi berapa banyak cahaya yang akan masuk. Seperti teori keran, apabila kita membuka keran terlalu lama, maka wadah penampung air tadi akan kelebihan sehingga akan meleber keluar. Kalau dalam kasus fotografi, medium akan terbakar. 

Penulisan shutter speed yang benar adalah 1/x. Sehingga apabila dikatakan bahwa sebuah foto menggunkanan speed 60, maka penulisannya yang benar adalah 1/60 detik. Jadi jangan bingung kalau dikatakan bahwa speed 60 lebih cepat dibandingkan 30. karena secara penulisan matematis memang begitu khan? 

Efek Samping dari Shutter Speed 
Seperti berpacaran yang memiliki efek samping, seperti sulit melirik wanita/pria lain, begitu juga dengan shutter speed. Semakin cepat shutter speed, maka akan gambar akan semakin terlihat diam (freeze). Dan sebaliknya, apabila speed terlalu lamban gambar akan terlihat blur dikarenakan gerakan yang terlalu cepat, sehingga objek terlihat bergerak sangat cepat.


ISO atau ASA 
Adalah tingkat sensitifitas medium dalam menerima cahaya. Semakin tinggi nilainya, maka akan semakin tingkat sensitifitasnya. Artinya, apabila kita merubah nilai ISO atau ASA ini menjadi lebih tinggi, sedangkan aperture dan speednya tidak diubah, maka medium akan menerima cahaya lebih banyak. Dan sebaliknya. 

Efek Samping ISO atau ASA 
ISO adalah tingkat sensitifitas sensor (medium), sedangkan ASA adalah tingkat sensitifitas film (medium), jadi perbedaannya hanya dimediumnya saja. Tapi logikanya sama. Kecuali efek sampingnya. Dimana apabila menggunakan film ASA tinggi, maka gambar akan terlihat grainy (berbentuk titik kecil namun banyak). Sedangkan penggunaan ISO tinggi akan menghasilkan noise (seperti bentuk cacing namun banyak). Sedikit aja udah geli apalagi banyak =) semoga bermanfaat...salam
<



 Dari asal katanya adalah Photography (bahasa Inggris), dari 2 kata, yaitu Photo (cahaya) dan Graph (tulisan/lukisan). Fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada cahaya, berarti tidak ada foto yang bisa dibuat.


Belajar fotografi, pada prinsipnya adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan, yang selanjutnya disebut lensa. Fotografi berarti teknik melukis dengan cahaya. Mungkin Anda bisa mempelajari teori dasar fotografi bisa dilakukan dalam semalam. Tapi, itu saja tentu saja tidak cukup.

Satu hal yang wajib dilakukan jika ingin belajar fotografi adalah mempraktekkan teknik fotografi yang telah didapat. Jangan pernah malas untuk mengasah kemampuan. Prinsipnya, semakin banyak berlatih, maka kemampuan Anda semakin meningkat.

Sebelum mengambil gambar sebuah objek, ada banyak hal yang harus Anda perhatikan. Hal terpenting ketika belajar fotografi adalah cepat mengenali karakteristik objek. Apakah termasuk objek diam atau bergerak.

Tentu saja teknik yang digunakan untuk kedua objek ini akan berbeda. Untuk objek bergerak, dituntut skill yang lebih tinggi jika dibandingkan objek diam.

Anda bisa belajar fotografi dari pacuan kuda, misalnya. Anda bisa memilih posisi rintangan besi, yaitu ketika kuda melompat, sehingga kecepatan larinya berkurang. Posisi ini juga terlihat menarik.

Sedangkan untuk objek diam, Anda dituntut untuk mampu mengeset pencahayaan dan komposisi. Tujuannya tentunya tidak lain agar foto yang dihasilkan enak dan bermakna.


Berikut 4 Dasar dalam belajar Fotografi :

Composition
Untuk menghasilkan gambar yang menarik, bermain dengan komposisi itu dibutuhkan. Kadang bagi pemula, objek foto selalu ditempatkan ditengah, padahal sebenarnya tidak demikian. Objek foto dapat diletakkan dan dibuat semenarik mungkin, asal menyatu dengan elemen sekitarnya. Setiap orang berbeda dalam menentukan komposisi, semua itu bergantung pada sense dan banyak berlatih.

Depth of Field
Menentukan ketajaman objek yang akan difotonya. Apakah objek tersebut dibuat fokus semuanya atau hanya objek utama saja yang focus, sedangkan objek lainnya tidak.

Exposure
Hasil foto sangat ditentukan oleh pencahayaan yang pas, tidak underexposure ataupun highexposure.

Focus
Foto yang baik adalah foto yang fokus. Untuk mendapatkannya, Anda harus rajin berlatih. Selain itu, Anda juga dituntut untuk mengenal kamera yang akan dipakai.

Berikut tips singkat dalam belajar fotografi agar bisa membuat foto yang baik :

Pilih objek yang menarik, yang akan menjadi pusat perhatian.
Pilih latar belakang yang tidak mengganggu objek utama.
Waktu terbaik untuk foto outdoor adalah pagi atau sore, karena cahaya matahari mengenal objek lebih baik.
Tentukan angle atau sudut pengambilan foto yang paling baik. Tidak ada salahnya mencoba beberapa angle untuk mendapatkan hasil yang baik.



Selain mengenal tekhnik dasar diatas, anda bisa juga belajar fotografi online. Mungkin sekarang sudah banyak situs-situs/forum untuk yang suka hobby foto. Salah satu situs yaitu belajarfotografionline.com, banyak yang bisa anda dapatkan anara lain :

Anda dan Kamera
Pada tahap ini akan diajarkan mengenai seluk beluk kamera yang digunakan untuk melakukan pemotretan dan anda selaku pemotret.

Teknik Dasar Fotografi
Ini merupakan teknik yang harus dikuasai oleh seorang juru foto dan berbagai rahasia dasar sebelum melangkah ke teknik rahasia selanjutnya.

Pencahayaan yang tepat
Salah satu hal utama yang dapat menghasilkan foto yang indah dan berkualitas adalah pencahayaan yang baik dan tepat.

Lensa
Pada modul materi yang keempat ini akan dibahas tentang cara kerja lensa, jenis-jenis lensa dan cara penggunaan lensa yang tepat untuk kondisi yang berbeda.
Konsep Penting Untuk Karya Foto Yang IndahBagian ini akan membahasa tentang segala hal yang utama agar terciptanya suatu karya foto yang indah dan menawan.

Cahaya
Modul ini akan membahas semua hal yang berhubungan dengan cahaya dalam fotografi dan bagaimana memanfaatkan cahaya untuk menghasilkan foto yang bagus.

Perspektif dalam fotografi
Pada tahap akhir ini akan diberikan teknik-teknik rahasia agar foto bisa tampil dengan kesan tiga dimensi dan ini merupakan suatu tantangan utama dalam fotografi.

Semoga bermanfaat :)
sumber:
http://www.ksaday.com/2012/05/belajar-fotografi-online-dengan-mudah.html
http://www.anneahira.com/dunia-belajar/belajar-fotografi.htm





Beberapa kali mencoba memotret di luar ruangan dengan cuaca yang sering berubah kadang-kadang bikin kita ilfil, tapi kalau boleh berandai-andai apa yang terjadi seandainya teknologi mutakhir yang sangat memanjakan anda tiba-tiba kacau? 
tentu anda akan kembali bertumpu kepada pengetahuan dasar rekayasa agar tetap bisa bekerja dengan alat dan cara yang benar. 

Demikian pula halnya fotografi digital yang bertumpu kepada beberapa rumus saat memakai teknologi kamera SLR film. Ingin tahu apa yang bisa bekerja pada kamera film namun bisa diterapkan pada kamera digital?

1.  Cerah, gunakan rumus 16; dasar eksposur untuk beberapa pengambilan gambar  
     pada hari yang cerah adalah f/16 pada ISO tertentu, biasanya f/6 pada kecepatan
     rana 1/100 dipakai ISO/ASA 100, dari sini   anda bisa atur untuk f/22 pada
     pemotretan di pantai ( atau gurun) dan f/11 untuk siang yang mendung.

2.  Malam gunakan rumus 11, 8, 5.6; ada beberapa aturan yang berbeda saat memotret
     saat ada malam  hari, umumnya f/11 pada ISO terset saat bulan purnama. Pada
     bulan separuh gunakan kecepatan shutter   f/8  dan saat bulan seperempat gunakan  
     f/5.6.

3.  Rumus kamera goyang; kecepatan shutter paling lambat saat anda memegang
     kamera biasanya adalah  lebih dari seper dari panjang fokal yang anda gunakan,
     missal bila anda memakai lensa 50mm, bidik  dengan 1/60 detik atau lebih cepat.
     Kurang cahaya? Gunakan lampu kilat, tripod, penyangga apapun  agar kamera
     tetap berdiri tegak. Bila shutter lambat, kamera akan cenderung goyang yang
     artinya anda  akan  mempoeroleh hasil gambar yang kurang tajam atau bahkan
     blur.

4.  Anatomi Gray card; Metering dari 18 persen dari gray card netral (neutral gray
     card) adalah cara yang  baik untuk mendapatkan nilai midtone yang akan memberi
     anda berbagai eksposure dari scene yang  berbeda. lantas gimana kalau kelupaan
     bawa Gray card? cukup buka lebar tangan anda menghadap asal  sinar, biarkan
     terbaca buka satu stop dan potretlah, tentu beberapa warna kulit yang berbeda
     akan  menghasilkan nilai f-stop yang berbeda.

5.  Depth of field atau DOF; ketika memfokuskan kepada subyek yang dalam,
     fokuskan pada sebuah titik  kurang lebih sepertiga untuk memaksimalkan DOF.
     Karena daerah DOF (DOF zone) berada dibelakang  dari titik lebih kurang tiga kali
     lebih dalam dari daerah DOF (DOF zone) didepannya. Ini akan berjalan 
     baik untuk semua aperture dan panjang fokal, tetapi pada aperture yang lebih kecil
     dan panjang fokal   
     yang  pendek serta jarak potret yang lebih jauh akan memperbesar daerah DOF-
     nya.

6.  Rumus Cetak Digital; cara menghitung besar cetakan foto digital dengan memakai
     kamera digital, anda cukup sisi vertical dan horizontal pixel dengan angka 200,
     untuk gambar yang lebih tajam seperti catalog 
     atau kualitas cetak untuk pameran, bagi bilangan pixel tersebut dengan 250.   

7.  Rumus exposure; ada anjuran kuno “ekspos pada sisi terang, maka sisi (gelap)
     bayangan akan  menyesuaikan”, hal ini bisa berjalan pada slide film maupun
     digital, namun pada negative fil terutama yang  berwarna lebih baik anda over-
     eksposkan 1 stop.

8.  Rumus tentang lampu kilat (flashlight / blitz ); saaat memakai unit lampu flash
     otomatis yang tidak mempunyai rasio / perbandingan auto flash-fill, set ISO-nya
     flash pada dua kali ISO yang anda pakai,  ukur meter, pilih sebuah f-stop kemudian
     set aperture autoflash pada f-stop yang sama dan bidik. Hasil      rasionya    2:1
     flash-fill akan menghasilkan bayangan satu stop lebih gelap dari subyek utama.

9. Rumus Jarak lampu kilat (flashlight / blitz ); ingin tahu seberapa banyak jarak
    ekstra lampu flash pada ISO     yang lebih cepat? rumusnya adalah: lipat dua kali
    jarak, empat kalinya kecepatan. Sebagai contah kalau   lampu flash anda bekerja
    baik pada jarak 6 meter pada ISO 100 (baik pada kamera film maupun     kamera
     digital), maka lampu flash akan mampu bekerja dengan baik pada 12 meter pada
    ISO 400.

10.Rumus resolusi Megapixel; untuk melipatgandakan resolusi dalam digital kamera
     anda, anda harus    mengkalikan empat bukan dua, mengapa? Karena angka pixel
     pada sisi vertical dan horizontal harus  dilipat-duakan menjadi lipat dua dari sensor
     gambar.

11.Rumus action-stopping; untuk memperoleh action-stop frame yang tegak lurus
     dengan dengan sumbu lensa, anda membutuhkan shutter speeds 2 stop lebih cepat
     dari action moving yang melaju mendekat  atau menjauh dari anda. Untuk action-
     moving pada sudut 45 derajat dari sumbu lensa anda bisa memakai     cukup satu
     stop lebih lambat. Misalkan: jika ada orang berlari menuju anda dengan kecepatan
     moderat  yang biasanya dapat dihentikan pada 1/125 detik, maka membutuhkan
     shutter speed 1/500 detik   untuk subyek yang melintas menjauh atau mendekat dri
     lensa dan shutter speed 1/250detik bila dia berlari   pada arah miring 45 derajat. 

12.Rumus matahari terbenam; untuk mendapatkan gambar sunset terekspos, ukurlah
     (metering) langsung 
     keatas matahari (jangan langsung ke matahari). Jika anda ingin gambar   
     pemandangan ini tampak diambil  setengah jam kemudian, tinggal kurangi satu
     exposure compensation-nya.

semoga menjadi bahan referensi kita para maniac fotografi

Source : yoxx


wibiya widget