Read more: http://bambang-gene.blogspot.com/2011/03/pasang-meta-tag-di-blog-supaya-seo.html#ixzz1FYQ9VUp5 TUNGKAL FOTOGRAFI

TUNGKAL FOTOGRAFI

TUNGKAL FOTOGRAFI BELAJAR DAN SALING BERBAGI INFORMASI

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Popular Posts

Hello world!
Righteous Kill
Quisque sed felis

Silahkan Gabung

apakah anda suka

ARTIKEL TERBARU

Thumbnail Recent Post

Pelabuhan Roro Tungkal Jambi

Nuansa senja di kota tungkal pesisir jambi

Landscafe sunset lokasi sungai pengabuan

Sunset dan degradasi awan yang merupakan fenomena alam yang kita tidak dapat memprediksikannya kapan dia berubah

Sunset lokasi sungai betara

SUNSET

Saat senja menjelang di kota kuala tungkal pantai pesisir jambi

Penyuka fotografi mungkin banyak banget yang nggak tahu dengan perangkat lunak opensource yang dapat digunakan untuk menunjang aktifitas fotografi mereka. Memang sih yang paling gampang dan banyak digunakan adalah aplikasi aplikasi yang berjalan di sistem operasi Windows, mungkin karena paling gampang didapatkan walau dengan aplikasi bajakan yang sudah dianggap lumrah dan biasa di Indonesia saat ini.
open-source
Namun kadang kita mesti pahami apa yang dirasakan oleh pembuat perangkat lunak saat produk mereka dipergunakan secara ilegal alias dibajak kurang lebih mungkin sama rasanya saat karya foto kita diakui orang lain baik di media sosial maupun dalam konteks lainnya, kemudian mungkin dipergunakan untuk bisnis orang lain tanpa kita tahu dan mendapatkan manfaat ekonomi dari karya yang telah susah payah kita buat dengan berbagai macam pengorbanan tentunya nggak enak juga ya.
Okelah menurut saya sih kembali ke masing-masing saja, jalan amannya ya beli saja perangkat lunaknya (lisensinya) mulai dari sistem operasi windowsnya, raw image processing seperti yang populer Adobe lightroom, image manipulation program seperti Adobe Photoshop, HDR image processing seperti Photomatix.
Bagi yang pingin idealis seperti penulis (sebenarnya bokek buat beli lisensi) …cie cie…bisa menggunakan perangkat lunak opensource yang fungsinya nggak kalah dengan perangkat lunak berbayar yang banyak beredar saat ini. Penulis pun selalu menggunakan perangkat lunak opensource untuk melakukan post processing dari foto-foto yang penulis ambil dengan kamera DSLR.
Pertanyaan yang sering penulis dapatkan susah nggak..? Ini gampang gampang sulit menjawabnya, contoh soal saja penulis yang hanya user linux/ubuntu biasa saja bisa menggunakannya harusnya siapa saja pasti bisa menggunakannya, tohh semua bisa menggunakan ponsel pintar berbasis Android kan yang juga awalnya dari linux CMIIW.

Oke sebenarnya apa saja sih yang penulis pakai saat menggunakan aplikasi opensource untuk mengelola foto foto yang telah diambil menggunakan kamera DSLR.

1. Kalibrasi layar monitor

Tidak perlu khawatir saat menggunakan linux ubuntu atau yang lainnya proses kalibrasi warna tetap bisa dilakukan perangkat seperti Spyder, Colorhug dllnya dapat dipergunakan untuk melakukan kalibrasi layar komputer kita. Caranya nya pun cukup mudah. Nanti akan penulis tuangkan dalam tulisan tersendiri.
https://displaycal.net/
https://displaycal.net/

2. Rapid Photo Downloader

Pada alur sebelum masuk ke tahap proses post processing atas foto yang kita peroleh, tentunya kita harus memindahkan berkas dari kartu memory kamera ke komputer atau laptop yang kita pergunakan. Bisa saja dengan copy paste namun penulis menggunakan aplikasi Rapid Photo Downloader. Keuntungannya adalah sekalian kita melakukan manajemen foto kita. Dengan Rapid Photo Downloader kita dapat mengelompokkan foto, mengubah nama, memilih foto yang hendak dipindahkan sesuai dengan yang kita inginkan. Pertanyaannya kenapa mesti repot repot kan tinggal copy paste. Ya semua pilihan, copy paste juga bukan salah, namun saat kita memiliki banyak file foto tentu kita tidak mau menjadi susah saat mencari berkas foto untuk keperluan setelah dipindahkan ke komputer. Bayangkan kita harus mengubah nama berkas 20 file saja, nggak kuat rasanya kalau penulis nah dengan aplikasi RPD ini pekerjaan tersebut menjadi lebih mudah tentunya.
Penulis akan membahas sendiri tentang Rapid Photo Downloader dengan topik bahasan tersendiri.
rapidphotodownloader
http://www.damonlynch.net/rapid/

3. Darktable

Langkah berikutnya ketika foto sudah diunduh via Rapid Photo Downloader adalah mengolah berkas foto tersebut agar sesuai dengan apa yang kita inginkan, ada berbagai aplikasi pengolahan berkas RAW dari kamera di Linux terutama ubuntu, namun yang penulis gunakan adalah darktable. Aplikasi ini bagi penulis sangat menyenangkan, proses pengolahan berkas RAW terasa mudah dan gampang serta cepat.
https://darktable.org
https://darktable.org
Dalam pengalaman penulis tiga aplikasi diatas akan membuat mesin linux Anda menjadi mesin pengolahan foto yang setara dengan pengolahan foto berbasis Windows dengan biaya lisensi ratusan sampai ribuan dolar. Memang kita perlu lebih banyak belajar dengan open source karena sesuatu hal yang memang berbeda mungkin saja terjadi, apalagi yang sudah biasa pakai program bajakan yang mudah mendapatkan versi aspalnya dengan kode aktivasi bertebaran di internet he he , dengan program berbasis opensource kita melakukan pekerjaan yang pada pemikiran alias pada otak, bukan padat modal tetapi pada otak, nah modalnya dari pada dibelikan lisensi perangkat lunak lebih baik dipergunakan membeli perlengkapan fotografi yang lebih mumpuni.
Semoga tulisan ini bisa memberikan alternatif baru bagi fotografer dalam melakukan post processing fotonya. Oya ikuti terus dan nantikan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan opensource dan fotografi pada waktu waktu yang akan datang, semua ditulis berdasarkan pengalaman penulis dalam menggunakan perangkat lunak opensource dalam kehidupan sehari-hari di bidang fotografi
source 

Dunia fotografi digital semakin maju pesat terlebih lagi dengan kehadiran fenomena standard video baru yang bernama 4K Video. Karena sejatinya perangkat fotografi digital tidak hanya mampu merekam gambar diam alias still image, perangkat ini juga mampu merekam gambar bergerak berbentuk videografis, maka dengan demikian kemapuan videografis ini tentu dapat dimanfaatkan pula untuk fotografi yang dikenal dengan istilah 4K fotografi.
sony_a7s
Salah satu kamera full Frame Sensor berkemampuan 4K Video Recording – Sony A7s
Sebetulnya 4K fotografi ini tidak datang begitu saja, tetapi diawali oleh ulah perancang kamera digital mirrorless pada sekitar tahun 2012 atau lebih awal lagi,  yang berusaha mengembangkan lebih jauh dengan menggabungkan, Foto + Video + Audio, dan format yang dihasilkan adalah e-Product Video yang dapat dilihat pada perangkat mobile, media sosial, website, YouTube dan layanan video sharing lainnya. Kemampuan kamera DSLM (Digital Single Lens Mirrorless) yang dapat membuat mulus pekerjaan antara stills dan video ini, oleh para fotografer dimaknai dengan timbul nya generasi baru didunia fotografi atau berevolusi menjadi generasi “Hybrid Fotografi” dimana kamera foto digital yang dapat merekam video dengan kualitas yang sangat baik
1474534986_437_panasonic-lumix-gh5-ultra-hd-4k-video-capture-60-fps-and-6k-photo
Salah satu kamera Sensor M43, berkemampuan Hybrid Fotografi – Panasonic Lumix GH4 
Kemunculannya 4K fotografi ini sejalan dengan perkembangan sensor gambar dan prosesor pada kamera yang makin kuat dan canggih maka kemampuan standar videonya pun makin berkembang dari pada awalnya hanya 480p (standard definition), di tahun 2000 an, naik menjadi 720p (high definition) naik menjadi 1080p (full hd) yang pada umum nya rekor kamera digital paling modern pada resolusi ini pada saat itu.
4k-resolution-chart
Bagan resolusi dari SD ke Cinema 4K

Tetapi beberapa kamera rupanya menawarkan kemampuan yang lebih tinggi lagi 4000p atau 4K UHD yang diperkenalkan pertama oleh Panasonic pada kamera Lumix GH4 nya sekitar tahun 2014. 4K UHD secara signifikan akan menghasilkan gambar lebih rinci lagi, karena memiliki dua kali lebih banyak piksel horizontal, dan empat kali lebih banyak piksel total nya dibanding standar Full HD. Bahkan di tahun 2017 Panasonic berjanji akan mengeluarkan kamera 4K/60fps dan 6K/30fps nya pada Lumix GH5 nya.
4K Video untuk Fotografer:
4k-photo-modeBagaimana cerita nya sebuah modus video 4K bisa berguna untuk stills fotografi? Baik, sekarang bayangkan melakukan bidikan sebanyak 24, 25 atau 30 gambar, delapan megapiksel per detik, bisa terbayang kan gambaran nya. Apakah itu bidikan momen anak sedang melompat kekolam renang atau, momen tendangan gol ke gawang lawan dalam pertandingan sepak bola, nah kecepatan pengambilan gambar 30 bingkai per detik ini dapat membantu memastikan Anda menangkap momen yang sempurna dengan resolusi 8 MP. Dan dalam fotografi digital kemampuan ini terdapat pada modus 4K Fotografi.
mode-4k
Modus 4K Foto memungkinkan Anda memilih gambar diam yang tepat langsung dari rekaman 4K.
Beberapa kamera banyak yang mampu menampilkan bingkai-bingkai gambar dari pengambilan video pada modus playback, ada beberapa yang dapat menandai bingkai yang akan anda pilih dengan menekan tombol bidik pada saat perekaman
Kamera 4K, misalnya contoh pada kamera Panasonic Lumix DMC G7 kamera ini bekerja sedikit lebih kedepan dengan modus dedicated ‘4K Foto’ nya yang memungkinkan anda membidik cuplikan-cuplikan lebih dari aspek rasio konvensional, dan bukan dengan format video panorama yang biasa. Beberapa kamera juga sudah memiliki fungsi pintar ini untuk membantu anda mengabadikan momen, seperti ‘mode pre-record’ yang terus-menerus mencatat rekaman, kemudian menyimpan 30 frame tersebut sebelum dan setelah menekan ‘shutter’.
4K video di 30fps:
Dalam 1 detik dari rekaman 4K Anda mendapatkan 30 foto. Mobil balap yang bergerak cepat adalah subyek sulit untuk membingkai dengan tepat, meskipun begitu dengan banyak nya foto yang terekam dala waktu 1 detik akan memudahkan anda untuk memilih bebrapa bingkai yang tepat untuk disimpan.
fps-30Modus Foto 4K 30ps memungkinkan Anda mudah memilih gambar-gambar untuk disimpan.
Burst mode’ pada kebanyakan kamera adalah 5-8fps:
Umumnya sebagian besar kamera digital hanya mampu menembak 5-8 gambar dalam satu detik, jauh lebih lambat dibandingkan 4K. Anda mungkin mendapatkan satu atau dua foto yang baik dengan bila ter latihan dan waktu yang tepat, namun beberapa foto dalam urutan waktu yang dekat mustahil.
fps-5
Dengan burst mode 5-8fps akan kehilangan kesempatan mendapatkan bingkai yang tepat 
Satu lagi manfaat yang bisa diperoleh dari 4K adalah inovatif 4K Post Focus (Lumix GX80) berkat video 4K anda bisa memilih fokus setiap foto/bingkai setelah melakukan pembidikan/perekaman. Dengan inovatif 4K Post Focus, kamera merekam dan memfokus semua subjek bingkai per bingkai, dan setelah selesai perekaman video 4K anda bisa menggunakan layar sentuh untuk memilih titik fokus setiap bingkai yang diinginkan pada saat tayang ulang (playback).
post_focus_640
Setelah 1 kali bidikan dapat memilih bingkai sesuai dengan pilihan fokus nya untuk disimpan
Dengan memanfaatkan modus 4K Post Focus kita bisa melakukan ‘Focus Stacking’. Fotografer yang ingin menerapkan Focus Stacking dapat dengan mudah mengekspor setiap frame dari video Post Fokus ke Photoshop dan pilih mana bingkai mana yang harus tetap fokus, dengan kamera lumix G80/85 yang baru, Focus Stacking langsung dari kamera. Ini sangat berguna untuk pemotretan makro dimana umumnya lensa makro mempunyai DOF sangat tipis.
stacking
Tiga pilihan bingkai foto dengan 3 titik fokus berbeda yang akan di stack menjadi satu bingkai
Jadi sangat mungkin untuk menarik gambar besar dari 4K video dengan kamera apapun yang mempunyai kapasitas 4K. Jika Anda sedang shooting video dengan maksud eksplisit mendapatkan gambar ‘stills’, anda akan mendapatkan keuntungan dari beberapa ‘fine-tuning settings’ dan teknik sebagai mana pada ‘still photography’.
Menurut saya pribadi 4K video dalam lingkup still-foto akan menarik sekali bagi dua kelompok fotografer, yaitu kelompok yang menawarkan video dengan layanan standar mereka (seperti fotografer pernikahan), dan mereka yang masih ingin mencoba capture still fotografi dengan mengambil gambar dari bingkai per bingkai rekaman video 4K, 6K atau 9K. Tapi bagi kelompok yang bukan dari kedua kelompok tersebut diatas, akan berlalu begitu saja karena memang tidak terkesan oleh tren ini.
Source 



Saat baru belajar fotografi, banyak yang menganggap bahwa cahaya di dalam ruangan seperti di dalam kantor yang diterangi lampu neon terangnya tidak berbeda jauh dari cahaya matahari sehingga tidak ragu memilih setting ISO rendah (100-200).
Sebenarnya, kondisi cahaya lampu jauh lebih gelap daripada cahaya matahari. Otak dan mata kita bekerja selayaknya AUTO ISO di kamera, otomatis menyesuaikan dengan kondisi cahaya yang ada. Tapi menurut kamera, lampu buatan manusia itu jauh lebih gelap daripada cahaya matahari.
Satuan pengukuran cahaya untuk fotografer biasanya diekspresikan dengan EV (Exposure Value). Nilai yang diberikan bervariasi sesuai dengan ISO yang di set. Meningkatkan ISO 100 menjadi 200 berarti meningkatkan 1 EV.
Exposure Value juga bisa diekspresikan dengan kombinasi dari aperture dan shutter speed dengan asumsi ISO diset ke 100. Di hari yang cerah dengan matahari, nilai EV-nya 15, dengan kombinasi ISO 100, f/16 dan shutter speed 1/125 atau supaya mudah diingat, 1/100 detik. Kombinasi ini sering disebut aturan Sunny 16. Sedangkan di dalam ruangan, seperti di ruangan kantor yang terang, nilai EV berkurang menjadi EV 8 dengan kombinasi ISO 100, f/2.8, 1/30 detik.
Jika memotret di ruangan yang gelap atau mendung sekali, nilai EV turun ke sekitar  EV 5 (ISO 100, f/2.8, 1/4 detik).
Sesaat setelah matahari terbenam, atau disebut juga twilight, akan didapatkan EV 2 (ISO 100, f/2.8, 2 detik).
Cahaya bulan atau malam hari tanpa polusi cahaya dari gedung/pemukiman biasanya sekitar EV -3 sampai -6 (ISO 100, f/2.8, 1 menit s/d 10 menit).
Tentunya, kombinasi dari ISO, aperture dan shutter speed itu bersifat fleksibel, artinya banyak kombinasi yang bisa kita pilih untuk mendapatkan terang gelap yang sama. Contohnya setelan di dalam ruangan yang terang, EV 8 (ISO 100, f/2.8, 1/30 detik) bisa juga diubah menjadi ISO 800, f/5.6, 1/60 detik untuk mendapatkan hasil terang-gelap foto yang sama.
Dengan memahami EV, kita bisa lebih paham mengapa saat memotret di dalam ruangan atau di tempat yang gelap membutuhkan setting yang sangat berbeda dengan di luar ruangan. ISO 100 yang cukup untuk foto outdoor, tidak cukup tinggi untuk di dalam ruangan kecuali saat mengunakan lensa berbukaan besar atau shutter speed yang relatif lambat (beresiko blur jika tidak mengunakan tripod).
Nilai EV biasanya juga sering dihubungkan dengan kemampuan autofocus kamera. Sebagian besar sistem autofocus kamera DSLR bisa bekerja dengan baik di EV -1 sampai +19. Sedangkan ada beberapa kamera profesional yang mampu sampai EV -3 (ruangan yang sangat gelap atau di malam hari dengan penerangan bulan purnama).





































Sebelum abad ke-17 di Tanah Tungkal ini sudah berpenghuni seperti Merlung, Tanjung Paku, Suban yang sudah dipimpin oleh seorang Demong, jauh sebelum datangnya rombongan 199 orang dari Pariang Padang Panjang yang dipimpin oleh Datuk Andiko dan sebelum masuknya utusan Raja Johor.

Kemudian memasuki abad ke-17 ketika itu daerah ini masih disebut Tungkal saja, daerah ini dikuasai atau dibawah Pemerintahan Raja Johor. Dimana yang menjadi wakil Raja Johor di daerah ini pada waktu itu adalah Orang Kayo Depati. Setelah lama memerintah Ornag Kayo Depati pulang ke Johor dan ia digantikan oleh Orang Kayo Syahbandar yang berkedudukan di Lubuk Petai. Setelah Orang Kayo Syahbandar kemudian diganti lagi oleh Orang Kayo Ario Santiko yang berkedudukan di Tanjung Agung (Lubuk petai) dan Datuk Bandar Dayah yang berkedudukan di Batu Ampar, daerahnya meliputi Tanjung rengas sampai ke Hilir Kuala Tungkal atau Tungkal Ilir sekarang.

Memasuki abad ke- 18 atau sekitar tahun 1841-1855 Tungkal dikuasai dan dibawah Pemerintahan Sultan Jambi yaitu Sultan Abdul Rahman Nasaruddin. Pada saat itu kesultanan Jambi mengirim seorang Pangeran yang bernama Pangeran Badik Uzaman ke Tungkal yaitu Tungka Ulu sekarang Kedatangannya disambut baik oleh orang Kayo Ario Santiko dan Datuk Bandar Dayah.

Setelah terbukanya kota Kuala Tungkal maka semakin banyak orang mulai datang, sekitar tahun 1902 dari suku Banjar yang berimigrasi dari Pulau Kalimantan melalui Malaysia. Mereka ini berjumlah 16 orang antara lain : H.Abdul Rasyid, Hasan, Si Tamin gelar Pak Awang, Pak Jenang, Belacan Gelar Kucir, Buaji dan kemudian mereka ini berdatangan lagi dengan jumlah agak lebih besar yaitu 56 orang yang dipimpin oleh Haji Anuari dan iparnya Haji Baharuddin, Rombongan 56 orang ini banyak menetap di Bram Itam Kanan dan Bram Itam Kiri. Selanjutnya datang lagi dari suku Bugis, Jawa, Suku Donok atau Suku Laut yang banyak hidup dipantai/laut, dan Cina serta India yang datang untuk berdagang .

Pada tahun 1901 kerajaan Jambi takluk keseluruhannya kepada Pemerintahan Belanda termasuk Tanah Tungkal khususnya di Tungkal Ulu yang Konteleir jenderalnya berkedudukan di Pematang Pauh. Sehingga pecahlah perperangan antara masyarakat Tungkal ulu dan Merlung dengan Belanda. Karena mendapat serangan yang cukup berat akhirnya pemerintah Belanda mengundurkan diri dan hengkang dari wilayah itu. Perperangan itu dipimpin oleh Raden Usman anak dari Badik Uzaman. Raden Usman kemudian wafat dan dimakamkan di Pelabuhan Dagang.

Selanjutnya muncullah Pemerintahan kerajaan Lubuk Petai yang dipimpin oleh Orang Kayo Usman Lubuk Petai kemudian membentuk pemerintahan baru. Pada waktu itu dibentuklah oleh H.Muhammad Dahlan Orang Kayo yang pertama dalam penyusunan pemerintahan yang baru.

Orang Kayo pertama ini pada waktu itu masih diintip dan diserang oleh rombongan dari Jambi. Ia diserang dan ditembak dirumahnya lalu patah. Maka bernamalah pemerintahan itu dengan Pemerintahan Pesirah Patah sampai zaman kemerdekaan. Dusun-dusun pada pemerintahan Pesirah Patah dan asal mula namanya adalah :
Ø Dusun Lubuk Kambing tadinya berasal dari Benaluh dan Lingkis.
Ø Dusun Sungai Rotan tadinya berasal dari dusun Timong dalam.
Ø Dusun Ranatu Benar tadinya berasal dari Riak Runai dan Air dan Air Talun.
Ø Dusun Pulau Pauh tadinya berasal dari kampung Jelmu pulau Embacang.
Ø Dusun Penyambungan dan Lubuk Terap berasal dari Suku Teberau.
Ø
Dusun Merlung tadinya berasal dari suku Pulau Ringan yang dibagi lagi dalam beberapa suku yaitu : Pulau Ringan, Kebon Tengah, Langkat, Aur Duri, Kuburan Panjang, Gemuruh, dan Teluk yang tunduk dengan Demong.
Ø Dusun Tanjung Paku tadinya berasal dari Tangga Larik.
Ø Dusun Rantau Badak tadinya berasal dari Dusun Lubuk Lalang dan Tanjung Kemang.
Ø Dusun Mudo tadinya Talang Tungkal dan Lubuk Petai.
Ø Dusun Kuala Dasal yang pada waktu itu belum lahir adalah dusun Pecang Belango.
Ø Dusun Badang tadinya berasal dari Badang Lepang di dalam.
Ø Dusun Tanjung Tayas tadinya berasal dari Bumbung.
Ø Dusun Pematang Pauh.
Ø Dusun Batu Ampar yang sekarang menjadi Pelabuhan Dagang.
Ø
Dusun Taman Raja tadinya bernama Pekan atau pasar dari kerajaan Lubuk Petai. Kemudian disebut Taman Raja karena dulunya merupakan tempat pertemuan dan musyawarah raja Lubuk Petai dan raja Gagak.
Ø Dusun Suban tadinya berasal dari Suban Dalam.
Ø Dusun Lubuk Bernai tadinya Tanjung Getting dan Lubuk Lawas.
Ø Dusun Kampung Baru.
Ø Dusun Tanjung Bojo.
Ø Dusun Kebun.
Ø Dusun Tebing Tinggi.
Ø Dusun Teluk Ketapang.
Ø Dusun Senyerang.

Marga Tungkal Ulu :
- Pesirah MT.Pahruddin (195 Zaman pemerintahan Orang Kayo H.Muhammad Dahlan berakhir sampai sekitar tahun 1949, kemudian barulah gelar Orang Kayo berubah menjadi Pesirah sekitar tahun 1951. Sebelum Kabupaten Dati II Tanjung Jabung terbentuk, berada dalam Kewedanaan Tungkal yang memimpin beberapa Pesirah. Adapun para Pesirah di tanah tungkal ini dahulunya adalah :1-1953)
- Pesirah Daeng Ahmad anak dari H.Dahlan (1953-1959)
- Pesirah Zikwan Tayeb (1959-1967)
- 1969 masa transisi perubahan marga
- Syafei Manturidi (1969-1973)
- Adnan Makruf (1974-1982)

Marga Tungkal Ilir :
- Raden Syamsuddin (Pemaraf)
- M.Jamin
- Pesirah H.Berahim
- Pesirah Ahmad
- Pesirah Asmuni
- Pesirah H.M.Taher

Seiring bergulirnya perkembangan zaman berdasarkan keputusan Komite Nasional Indonsia (KNI) untuk Pulau Sumatera di Kota Bukit Tinggi (Sumbar) pada tahun 1946 tanggal 15 April 1946, maka pulau Sumatera di bagi menjadi 3 (tiga) Provinsi, yaitu Provinsi Sumatera Tengah, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Selatan, pada waktu itu Daerah Keresidenan Jambi terdiri dari Batanghari dan Sarolangun Bangko, tergabung dalam Provinsi sumatera Tengah yang dikukuhkan dengan undang - undang darurat Nomor 19 Tahun 1957, kemudian dengan terbitnya undang - undang Nomor 61 Tahun 1958 pada tanggal 6 januari 1958 Keresidenan Jambi menjadi Provinsi Tingkat I Jambi yang terdiri dari : Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sarolangun Bangko dan Kabupaten Kerinci.

Pada tahun 1965 wilayah Kabupaten Batanghari dipecah menjadi 2 (dua) bagian yaitu : Kabupaten Dati II Batanghari dengan Ibukota Kenaliasam, Kabupaten Dati II Tanjung Jabung dengan Ibukotanya Kuala Tungkal. Kabupaten Dati II Tanjung Jabung diresmikan menjadi daerah kabupaten pada tanggal 10 Agustus 1965 yang dikukuhkan dengan Undang - Undang Nomor 7 Tahun 1965 (Lembaran Negara Nomor 50 Tahun 1965), yang terdiri dari Kecamatan Tungkal Ulu, Kecamatan Tungkal Ilir dan kecamatan Muara Sabak.


Setelah memasuki usianya yang ke-34 dan seiring dengan bergulirnya Era Desentralisasi daerah, dimana daerah di beri wewenang dan keleluasaan untuk mengurus rumah tangganya sendiri, maka kabupaten Tanjung Jabung sesuai dengan Undang-undang No.54 Tanggal 4 Oktober 1999 tentang pemekaran wilayah kabupaten dalam Provinsi Jambi telah memekarkan diri menjadi dua wilayah yaitu :
1. Kabupaten Tanjung Jabung Barat Sebagai Kabupaten Induk dengan Ibukota Kuala Tungkal
2. Kabupaten Tanjung Jabung Timur Sebagai Kabupaten hasil pemekaran dengan Ibukota Pangkalan Bulian.

Maret 2008 Kecamatan - kecamatan yang ada di tanjung Jabung barat dimekarkan dari 5 kecamatan menjadi 13 kecamatan.
Kecamatan di Tanjung Jabung Barat:

1 Pengabuan
2 Tungkal Ilir
3 Betara
4 Merlung
5 Tebing Tinggi
6 Batang Asam
7 Seberang Kota
8 Bram Itam
9 Tungkal Ulu
10 Senyerang
11 Kuala Betara
12 Muara Papalik
13 Renah Mendaluh


Di dalam kamera kita ada komponen bernama shutter, yang peranannya sangat penting untuk mengatur terang gelapnya foto, dan juga bisa membuat benda yang bergerak jadi tampak beku atau sebaliknya jadi terlihat blur. Komponen shutter ini bentuknya seperti tirai yang menutupi sensor, disebut juga dengan focal plane shutter. Saat foto diambil, shutter akan dibuka untuk memasukkan cahaya ke sensor. Lamanya shutter membuka disebut dengan shutter speed yang bisa kita pilih mau cepat atau lambat, dalam hitungan detik atau seper detik. Begitulah cara kerja kamera sampai saat ini, termasuk kamera digital SLR yang banyak dipakai oleh fotografer dimanapun.
Shutter_dslr
Ada satu hal yang menjadi kelemahan dari shutter berjenis focal plane atau nama lainnya vertical travel shutter ini. Bagi yang sering memakai lampu flash tentu pernah mengalami kalau flashnya tidak bisa dipakai pada shutter speed tertentu, misal diatas 1/200 detik. Hal ini karena desain dan kerja shutter yang menyebabkan cahaya flash akan terhalang bila shutter terlalu cepat. Pada hasil foto yang didapat akan terlihat belang, sebagian terang dan sebagian lagi gelap. Batasan ini bisa membatasi kreativitas kita dalam memotret dengan flash, misal di siang hari yang terang jadi tidak bisa pakai bukaan besar kalau pakai flash. Padahal bukaan besar punya keuntungan bisa membuat background jadi blur, dan berkaitan dengan flash kita tahu kalau bukaan besar bisa ‘meringankan’ kerja flash juga.
DSC_2898
Foto dengan flash jadi belang akibat memakai shutter terlalu cepat

Electronic shutter

Dulu saya punya kamera Nikon D40 yang salah satu kehebatannya adalah maksimum flash sync speed-nya. Bila kamera lain umumnya membatasi shutter hanya sampai 1/200 detik saat pakai flash, maka kamera saya ini membolehkan saya memakai flash sampai kecepatan 1/500 detik. Apakah shutter unit di Nikon D40 ini begitu istimewa? Ternyata bukan begitu, rahasianya adalah D40 memakai kombinasi shutter mekanik dan elektronik. Jadi shutter mekanik di kamera D40 itu hanya akan bekerja sampai speed tertentu misal 1/90 detik, lalu bila kita memilih speed lebih cepat dari itu maka otomatis kamera akan memakai shutter elektronik yang mengatur sirkuit di dalam sensor untuk ‘on-off’ dalam kecepatan tertentu, hingga 1/4000 detik.
Mungkin kita pernah bertanya-tanya, mengapa harus ada shutter dalam bentuk mekanik yang harus membuka tutup setiap foto diambil? Bukankah di jaman canggih ini sensor bisa ditugaskan juga jadi elektronik shutter, seperti sensor di kamera saku atau kamera Nikon D40? Apalagi sistem shutter elektronik punya keuntungan yaitu tidak ada komponen yang bergerak dan artinya akan terus bisa dipakai selama sensor atau kamera itu masih hidup. Jawaban simpelnya adalah desain sensor keduanya sedikit ada perbedaan. Sensor DSLR dan kamera lain dengan shutter mekanik didesain untuk ‘perlu bantuan’ dari shutter mekanik dalam menentukan timing eksposur. Sedangkan sensor di kamera saku atau kamera ponsel memang didesain untuk bisa difungsikan juga sebagai shutter elektronik supaya ringkas dan murah.
Penjelasan lebih lanjutnya adalah, pada dasarnya kalau kamera DSLR mau pakai sistem shutter elektronik bisa saja, walau tentu sensornya harus didesain ulang. Masalahnya untuk bisa menjadi shutter elektronik, sebuah sensor harus punya komponen tambahan pada setiap pikselnya, dan ini berakibat kemampuan menangkap cahaya jadi berkurang. Imbas langsungnya ada pada kualitas akhir dari foto yang dihasilkan. Bagi kita pengguna DSLR, mungkin merasa adanya shutter mekanik seolah-olah rumit dan mengangap konsep shutter elektronik terkesan jauh lebih simpel. Tapi bagi produsen kamera DSLR, shutter mekanik adalah sebuah solusi yang lebih masuk akal, bila memakai shutter elektronik justru akan membuat rumit desain sensor DSLR dan akan ada penurunan kualitas hasil fotonya.

Leaf shutter

imagesAda juga kamera yang dibuat dengan desain shutter berjenis leaf shutter. Berbeda dengan focal plane shutter yang biasa kita kenal, leaf shutter ini buka tutupnya mirip bilah aperture lensa, dan memang leaf shutter ini secara fisik berada di lensa (bukan di kamera). Bisa dibilang inilah desain shutter yang paling klasik, ada sejak awal era fotografi jaman dulu, seperti kamera Yashica, Mamiya dan lainnya. Yang jelas leaf shutter saat ini tidak ditemukan di kamera DSLR, melainkan di kamera medium format. Setiap lensa medium format punya leaf shutter sendiri, jadi harga lensanya akan lebih mahal. Kalau dibandingkan dengan focal plane shutter, kekurangan leaf shutter itu tidak bisa mencapai kecepatan yang sangat tinggi seperti focal plane shutter, paling hanya bisa sampai 1/1000 detik. Tapi keuntungannya leaf shutter cenderung tidak berisik, dan satu keunggulan utama dia adalah bisa flash sync dengan berapapun kecepatan shutternya.
Mengapa kemampuan flash sync begitu penting? Seperti yang sudah diulas di awal tulisan ini, saat siang hari tentunya kita akan lebih sering memakai shutter speed yang cepat, misal 1/500 detik. Bila kamera dengan focal plane shutter maksimal membatasi hanya boleh pakai 1/200 detik maka saat siang hari kita mau pakai flash, terpaksa memakai bukaan yang lebih kecil. Bukaan kecil sulit untuk mendapat bokeh dan akan melemahkan kekuatan flash juga. Dengan kamera berdesain leaf shutter, kita bisa pakai 1/500 detik, bukaan besar dan tenaga flash cukup yang rendah saja.
source by Info fotografi

wibiya widget